HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI DI KELAS XI IPS SMA NEGERI 2 SINGARAJA

28 10 2009

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Peningkatan kualitas sumber daya manusia sudah merupakan suatu keharusan bagi bangsa Indonesia apalagi pada era globalisasi yang menuntut kesiapan setiap bangsa untuk bersaing secara bebas. Pada era globalisasi hanya bangsa-bangsa yang berkualitas tinggi yang mampu bersaing atau berkompetisi di pasar bebas. Dalam hubungannya dengan budaya kompetisi tersebut, bidang pendidikan memegang peranan yang sangat penting dan strategis karena merupakan salah satu wahana untuk menciptakan kualitas sumber daya manusia, oleh karena itu sudah semestinya kalau pembangunan sektor pendidikan menjadi prioritas utama yang harus dilakukan pemerintah.
Inovasi dan upaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia telah lama dilakukan. Berbagai inovasi dan program pendidikan juga telah dilaksanakan, antara lain penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku ajar, peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan lainnya melalui pelatihan dan peningkatan kualitas pendidikan mereka, peningkatan manajemen pendidikan dan pengadaan fasilitas lainnya. Akan tetapi semuanya itu belum menampakkan hasil yang menggembirakan. Di samping itu juga banyak pendekatan pembangunan dalam pendidikan hanya memfokuskan pada masalah kuantitas, sehingga usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa cenderung dipersempit dalam lingkup pendidikan formal dan pembelajaran yang terbatas pada perhitungan kuantifikasi dengan mengabaikan kualitas. Implikasi dari kebijakan tersebut, walaupun sekarang ini telah dilancarkan pengembangan pendidikan yang menyangkut kualitas, produktivitas dan relevansi, namun masalah pendidikan terus berkembang makin rumit.
Salah satu indikator pendidikan berkualitas adalah perolehan hasil belajar yang maksimal oleh siswa, baik itu hasil belajar dalam bentuk kognitif, afektif maupun psikomotor. Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kegiatan proses belajar mengajar yang di dalamnya terdapat beberap faktor yang merupakan penentu lancar atau tidaknya kegiatan proses belajar mengajar. Faktor-faktor itu antara lain :
1. Instrumen Input yaitu ; kurikulum, perpustakaan, guru dan sebagainya.
2. Raw input yaitu ; siswa, motivasi, cara belajar dan sebagainya.
3. Environmental input yaitu ; lingkungan fisik dan sosial budaya.
(Subagia dan Sudiana, 2002).6t
Dari ketiga faktor utama yang mempengaruhi lancar tidaknya proses pembelajaran tersebut di atas, dalam penelitian ini difokuskan pada usaha siswa meningkatkan motivasi belajarnya untuk mendapatkan prestasi belajar yang baik dan memuaskan yang sekaligus akan berpengaruh pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia tahun 1991 dalam (http://duniapsikologi.dagdigdug.com/2008/11/27) pendidikan diartikan sebagai proses pembelajaran bagi individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi mengenai obyek-obyek tertentu dan spesifik. Pengetahuan tersebut diperoleh secara formal yang berakibat individu mempunyai pola pikir dan perilaku sesuai dengan pendidikan yang telah diperolehnya.
Sedangkan menurut Mortimer J. Adler dalam (http://sobatbaru.blogspot.com/2008/08/) “Pendidikan adalah dengan mana semua kemampuan manusia (bakat dan kemampuan yang diperoleh) yang dapat dipengaruhi oleh pembiasaan, disempurnakan dengan kebiasaan yang baik melalui sarana yang secara artistic dibuat dan dipakai oleh siapapun untuk membantu orang lain atau dirinya sendiri mencapai tujuan yang ditetapkan yaitu kebiasaan yang baik”
Dari kedua pendapat di atas, maka sudah jelas terlihat bahwa hanya dengan proses pendidikan yang baik, akan melahirkan manusia-manusia yang berkualitas yang sangat berguna bagi keberhasilan pembangunan.
John C. Bock (dalam Zamroni, 2000 : 2), mengidentifikasi peranan pendidikan sebagai berikut : (a) memasyarakatkan idiologi dan nilai-nilai sosio kultural bangsa, (b) mempersiapkan tenaga kerja untuk memerangi kemiskinan, kebodohan, dan mendorong perubahan sosial dan (c) untuk meratakan kesempatan dan pendapatan.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II Pasal 3, dirumuskan bahwa pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Berorientasi pada fungsi dan tujuan pendidikan nasional tersebut, maka sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan (formal), mempunyai misi dan tugas yang cukup berat. Selanjutnya dikatakan bahwa sekolah berperan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dalam arti menumbuhkan, memotivasi dan mengembangkan nilai-nilai budaya yang mencakup etika, logika, estetika, dan praktika, sehingga tercipta manusia yang utuh dan berakar pada budaya bangsa (Sumidjo, 1999 : 71).
Tercapainya tujuan pendidikan tadi, akan ditentukan oleh berbagai unsur yang menunjangnya. Makmun (1996 : 3-4) menyatakan tentang unsur-unsur yang terdapat dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) yaitu :”(1) Siswa, dengan segala karakteristiknya yang berusaha untuk mengembangkan dirinya seoptimal mungkin melalui kegiatan belajar, (2) tujuan, ialah sesuatu yang diharapkan setelah adanya kegiatan belajar mengajar, (3) guru, selalu mengusahakan terciptanya situasi yang tepat (mengajar) sehingga memungkinkan bagi terjadinya proses belajar.”
Dari pendapat tersebut tersirat bahwa dalam meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa tidak terlepas dari peran guru sebagai pihak yang mengajar dan membimbing siswa. Hal ini mengimplikasikan bahwa Proses Belajar Mengajar (PBM) merupakan suatu proses interaksi antara guru dan siswa yang didasari oleh hubungan yang bersifat mendidik dalam rangka pencapaian tujuan (Surakhmad, 1994 : 52).
Dalam proses belajar mengajar, motivasi merupakan salah satu faktor yang diduga besar pengaruhnya terhadap hasil belajar. Siswa yang motivasinya tinggi diduga akan memperoleh hasil belajar yang baik. Pentingnya motivasi belajar siswa terbentuk antara lain agar terjadi perubahan belajar ke arah yang lebih positif. Pandangan ini sesuai dengan Pendapat Hawley (Prayitno, 1989:3) : “Siswa yang termotivasi dengan baik dalam belajar melakukan kegiatan lebih banyak dan lebih cepat, dibandingkan dengan siswa yang kurang termotivasi dalam belajar. Prestasi yang diraih akan lebih baik apabila mempunyai motivasi yang tinggi.”
Begitu pula halnya bila kita lihat dalam proses belajar mengajar geografi. Siswa yang memiliki motivasi yang baik dalam mempelajari geografi akan melakukan kegiatan lebih cepat dibandingkan dengan siswa yang kurang termotivasi dalam mempelajari geografi. Siswa yang yang memiliki motivasi yang tinggi dalam mempelajari geografi maka prestasi yang diraih juga akan lebih baik. Sehingga dengan uraian tersebut menjadi landasan bagi penulis untuk mengadakan penelitian dengan judul” Hubungan Antara Motivasi dengan Prestasi Belajar Geografi Siswa Pada Kelas XI IPSdi SMA Negeri 2 Singaraja.”

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :
1.2.1 Seberapa besarkah motivasi belajar siswa pada mata pelajaran geografi Kelas XI IPSdi SMA Negeri 2 Singaraja?
1.2.2 Seberapa besarkah tingkat prestasi belajar siswa pada mata pelajaran geografi Kelas XI IPSdi SMA Negeri 2 Singaraja?
1.2.3 Apakah terdapat hubungan antara motivasi dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran geografi di Kelas XI IPSSMA Negeri 2 Singaraja?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1. Untuk mengetahui besarnya motivasi belajar siswa pada mata pelajaran geografi Kelas XI IPSdi SMA Negeri 2 Singaraja .
1.3.2. Untuk mengetahui tingkat prestasi belajar siswa pada mata pelajaran geografi Kelas XI IPSdi SMA Negeri 2 Singaraja.
1.3.3. Untuk mengetahui hubungan antara motivasi dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran geografi di Kelas XI IPSSMA Negeri 2 Singaraja.

1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1.4.1 Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan yang positif bagi pelaksanaan proses pembelajaran, dikaitkan dengan hubungan antara motivasi dengan prestasi belajar siswa di SMA.
1.4.2 Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi peneliti sendiri guna meningkatkan profesionalisme di bidang penelitian dan pengajaran.
1.4.3 Hasil penelitian ini berguna untuk memenuhi tugas dan persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Kajian Pustaka
2.1.1. Motivasi Belajar Siswa
2.1.1.1. Pengertian Motivasi Belajar Siswa
Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).
Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya.. Kajian tentang motivasi telah sejak lama memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya pencapaian kinerja (prestasi) seseorang. Dalam konteks studi psikologi, Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan bahwa untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari beberapa indikator, diantaranya: (1) durasi kegiatan; (2) frekuensi kegiatan; (3) persistensi pada kegiatan; (4) ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan; (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan; (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan; (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan; (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan.
Untuk memahami tentang motivasi, kita akan bertemu dengan beberapa teori tentang motivasi, antara lain : (1) teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan); (2) Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi); (3) teori Clyton Alderfer (Teori ERG); (4) teori Herzberg (Teori Dua Faktor); (5) teori Keadilan; (6) Teori penetapan tujuan; (7) Teori Victor H. Vroom (teori Harapan); (8) teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku; dan (9) teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi. (Sondang P. Siagian, 286-294; Indriyo Gitosudarmo dan Agus Mulyono,183-190, Fred Luthan,140-167). Diambil dari http://akhmadsudrajat.wordpress.com/ 2008/02/06/teori-teori-motivasi/

1. Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)
Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu : (1) kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex; (2) kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual; (3) kebutuhan akan kasih sayang (love needs); (4) kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status; dan (5) aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.
Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan) kadang-kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena manusia merupakan individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan tetapi bersifat pskologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual.
Menarik pula untuk dicatat bahwa dengan makin banyaknya organisasi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan makin mendalamnya pemahaman tentang unsur manusia dalam kehidupan organisasional, teori “klasik” Maslow semakin dipergunakan, bahkan dikatakan mengalami “koreksi”. Penyempurnaan atau “koreksi” tersebut terutama diarahkan pada konsep “hierarki kebutuhan “ yang dikemukakan oleh Maslow. Istilah “hierarki” dapat diartikan sebagai tingkatan. Atau secara analogi berarti anak tangga. Logikanya ialah bahwa menaiki suatu tangga berarti dimulai dengan anak tangga yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Jika konsep tersebut diaplikasikan pada pemuasan kebutuhan manusia, berarti seseorang tidak akan berusaha memuaskan kebutuhan tingkat kedua,- dalam hal ini keamanan- sebelum kebutuhan tingkat pertama yaitu sandang, pangan, dan papan terpenuhi; yang ketiga tidak akan diusahakan pemuasan sebelum seseorang merasa aman, demikian pula seterusnya.
Berangkat dari kenyataan bahwa pemahaman tentang berbagai kebutuhan manusia makin mendalam penyempurnaan dan “koreksi” dirasakan bukan hanya tepat, akan tetapi juga memang diperlukan karena pengalaman menunjukkan bahwa usaha pemuasan berbagai kebutuhan manusia berlangsung secara simultan. Artinya, sambil memuaskan kebutuhan fisik, seseorang pada waktu yang bersamaan ingin menikmati rasa aman, merasa dihargai, memerlukan teman serta ingin berkembang.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lebih tepat apabila berbagai kebutuhan manusia digolongkan sebagai rangkaian dan bukan sebagai hierarki. Dalam hubungan ini, perlu ditekankan bahwa :
• Kebutuhan yang satu saat sudah terpenuhi sangat mungkin akan timbul lagi di waktu yang akan datang;
• Pemuasaan berbagai kebutuhan tertentu, terutama kebutuhan fisik, bisa bergeser dari pendekatan kuantitatif menjadi pendekatan kualitatif dalam pemuasannya.
• Berbagai kebutuhan tersebut tidak akan mencapai “titik jenuh” dalam arti tibanya suatu kondisi dalam mana seseorang tidak lagi dapat berbuat sesuatu dalam pemenuhan kebutuhan itu.
Kendati pemikiran Maslow tentang teori kebutuhan ini tampak lebih bersifat teoritis, namun telah memberikan fundasi dan mengilhami bagi pengembangan teori-teori motivasi yang berorientasi pada kebutuhan berikutnya yang lebih bersifat aplikatif.
2. Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi)
Dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan :“ Melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit. Menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi obyek-obyek fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan seindependen mungkin, sesuai kondisi yang berlaku. Mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi. Mencapai performa puncak untuk diri sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil.”
Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (high achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu : (1) sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat; (2) menyukai situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain, seperti kemujuran misalnya; dan (3) menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah.
3. Teori Clyton Alderfer (Teori “ERG)
Teori Alderfer dikenal dengan akronim “ERG” . Akronim “ERG” dalam teori Alderfer merupakan huruf-huruf pertama dari tiga istilah yaitu : E = Existence (kebutuhan akan eksistensi), R = Relatedness (kebutuhanuntuk berhubungan dengan pihak lain, dan G = Growth (kebutuhan akan pertumbuhan)
Jika makna tiga istilah tersebut didalami akan tampak dua hal penting. Pertama, secara konseptual terdapat persamaan antara teori atau model yang dikembangkan oleh Maslow dan Alderfer. Karena “Existence” dapat dikatakan identik dengan hierarki pertama dan kedua dalam teori Maslow; “ Relatedness” senada dengan hierarki kebutuhan ketiga dan keempat menurut konsep Maslow dan “Growth” mengandung makna sama dengan “self actualization” menurut Maslow. Kedua, teori Alderfer menekankan bahwa berbagai jenis kebutuhan manusia itu diusahakan pemuasannya secara serentak. Apabila teori Alderfer disimak lebih lanjut akan tampak bahwa :
• Makin tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu, makin besar pula keinginan untuk memuaskannya;
• Kuatnya keinginan memuaskan kebutuhan yang “lebih tinggi” semakin besar apabila kebutuhan yang lebih rendah telah dipuaskan;
• Sebaliknya, semakin sulit memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi, semakin besar keinginan untuk memuasakan kebutuhan yang lebih mendasar.
Tampaknya pandangan ini didasarkan kepada sifat pragmatisme oleh manusia. Artinya, karena menyadari keterbatasannya, seseorang dapat menyesuaikan diri pada kondisi obyektif yang dihadapinya dengan antara lain memusatkan perhatiannya kepada hal-hal yang mungkin dicapainya.
4. Teori Herzberg (Teori Dua Faktor)
Ilmuwan ketiga yang diakui telah memberikan kontribusi penting dalam pemahaman motivasi Herzberg. Teori yang dikembangkannya dikenal dengan “ Model Dua Faktor” dari motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau “pemeliharaan”.
Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang.
Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain. Sedangkan faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku.
Salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori Herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat ekstrinsik.
5. Teori Keadilan
Inti teori ini terletak pada pandangan bahwa manusia terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha yang dibuat bagi kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima. Artinya, apabila seorang pegawai mempunyai persepsi bahwa imbalan yang diterimanya tidak memadai, dua kemungkinan dapat terjadi, yaitu :
• Seorang akan berusaha memperoleh imbalan yang lebih besar, atau
• Mengurangi intensitas usaha yang dibuat dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
Dalam menumbuhkan persepsi tertentu, seorang pegawai biasanya menggunakan empat hal sebagai pembanding, yaitu :
• Harapannya tentang jumlah imbalan yang dianggapnya layak diterima berdasarkan kualifikasi pribadi, seperti pendidikan, keterampilan, sifat pekerjaan dan pengalamannya;
• Imbalan yang diterima oleh orang lain dalam organisasi yang kualifikasi dan sifat pekerjaannnya relatif sama dengan yang bersangkutan sendiri;
• Imbalan yang diterima oleh pegawai lain di organisasi lain di kawasan yang sama serta melakukan kegiatan sejenis;
• Peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai jumlah dan jenis imbalan yang merupakan hak para pegawai
Pemeliharaan hubungan dengan pegawai dalam kaitan ini berarti bahwa para pejabat dan petugas di bagian kepegawaian harus selalu waspada jangan sampai persepsi ketidakadilan timbul, apalagi meluas di kalangan para pegawai. Apabila sampai terjadi maka akan timbul berbagai dampak negatif bagi organisasi, seperti ketidakpuasan, tingkat kemangkiran yang tinggi, sering terjadinya kecelakaan dalam penyelesaian tugas, seringnya para pegawai berbuat kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan masing-masing, pemogokan atau bahkan perpindahan pegawai ke organisasi lain.
6. Teori penetapan tujuan (goal setting theory)
Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni : (a) tujuan-tujuan mengarahkan perhatian; (b) tujuan-tujuan mengatur upaya; (c) tujuan-tujuan meningkatkan persistensi; dan (d) tujuan-tujuan menunjang strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan. Bagan berikut ini menyajikan tentang model instruktif tentang penetapan tujuan
7. Teori Victor H. Vroom (Teori Harapan )
Victor H. Vroom, dalam bukunya yang berjudul “Work And Motivation” mengetengahkan suatu teori yang disebutnya sebagai “ Teori Harapan”. Menurut teori ini, motivasi merupakan akibat suatu hasil dari yang ingin dicapai oleh seorang dan perkiraan yang bersangkutan bahwa tindakannya akan mengarah kepada hasil yang diinginkannya itu. Artinya, apabila seseorang sangat menginginkan sesuatu, dan jalan tampaknya terbuka untuk memperolehnya, yang bersangkutan akan berupaya mendapatkannya.
Dinyatakan dengan cara yang sangat sederhana, teori harapan berkata bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, yang bersangkutan akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Sebaliknya, jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya itu tipis, motivasinya untuk berupaya akan menjadi rendah.
Di kalangan ilmuwan dan para praktisi manajemen sumber daya manusia teori harapan ini mempunyai daya tarik tersendiri karena penekanan tentang pentingnya bagian kepegawaian membantu para pegawai dalam menentukan hal-hal yang diinginkannya serta menunjukkan cara-cara yang paling tepat untuk mewujudkan keinginannnya itu. Penekanan ini dianggap penting karena pengalaman menunjukkan bahwa para pegawai tidak selalu mengetahui secara pasti apa yang diinginkannya, apalagi cara untuk memperolehnya.
8. Teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku
Berbagai teori atau model motivasi yang telah dibahas di muka dapat digolongkan sebagai model kognitif motivasi karena didasarkan pada kebutuhan seseorang berdasarkan persepsi orang yang bersangkutan berarti sifatnya sangat subyektif. Perilakunya pun ditentukan oleh persepsi tersebut.
Padahal dalam kehidupan organisasional disadari dan diakui bahwa kehendak seseorang ditentukan pula oleh berbagai konsekwensi ekstrernal dari perilaku dan tindakannya. Artinya, dari berbagai faktor di luar diri seseorang turut berperan sebagai penentu dan pengubah perilaku.
Dalam hal ini berlakulah apaya yang dikenal dengan “hukum pengaruh” yang menyatakan bahwa manusia cenderung untuk mengulangi perilaku yang mempunyai konsekwensi yang menguntungkan dirinya dan mengelakkan perilaku yang mengibatkan perilaku yang mengakibatkan timbulnya konsekwensi yang merugikan.
Contoh yang sangat sederhana ialah seorang juru tik yang mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik dalam waktu singkat. Juru tik tersebut mendapat pujian dari atasannya. Pujian tersebut berakibat pada kenaikan gaji yang dipercepat. Karena juru tik tersebut menyenangi konsekwensi perilakunya itu, ia lalu terdorong bukan hanya bekerja lebih tekun dan lebih teliti, akan tetapi bahkan berusaha meningkatkan keterampilannya, misalnya dengan belajar menggunakan komputer sehingga kemampuannya semakin bertambah, yang pada gilirannya diharapkan mempunyai konsekwensi positif lagi di kemudian hari.
Contoh sebaliknya ialah seorang pegawai yang datang terlambat berulangkali mendapat teguran dari atasannya, mungkin disertai ancaman akan dikenakan sanksi indisipliner. Teguran dan kemungkinan dikenakan sanksi sebagi konsekwensi negatif perilaku pegawai tersebut berakibat pada modifikasi perilakunya, yaitu datang tepat pada waktunya di tempat tugas.
Penting untuk diperhatikan bahwa agar cara-cara yang digunakan untuk modifikasi perilaku tetap memperhitungkan harkat dan martabat manusia yang harus selalu diakui dan dihormati, cara-cara tersebut ditempuh dengan “gaya” yang manusiawi pula.
9. Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi.
Bertitik tolak dari pandangan bahwa tidak ada satu model motivasi yang sempurna, dalam arti masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, para ilmuwan terus menerus berusaha mencari dan menemukan sistem motivasi yang terbaik, dalam arti menggabung berbagai kelebihan model-model tersebut menjadi satu model. Tampaknya terdapat kesepakan di kalangan para pakar bahwa model tersebut ialah apa yang tercakup dalam teori yang mengaitkan imbalan dengan prestasi seseorang individu .
Menurut model ini, motivasi seorang individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Termasuk pada faktor internal adalah : (a) persepsi seseorang mengenai diri sendiri; (b) harga diri; (c) harapan pribadi; (d) kebutuhaan; (e) keinginan; (f) kepuasan kerja; (g) prestasi kerja yang dihasilkan.
Sedangkan faktor eksternal mempengaruhi motivasi seseorang, antara lain ialah : (a) jenis dan sifat pekerjaan; (b) kelompok kerja dimana seseorang bergabung; (c) organisasi tempat bekerja; (d) situasi lingkungan pada umumnya; (e) sistem imbalan yang berlaku dan cara penerapannya.
Istilah ”motif” dan ”motivasi” keduanya sukar dibedakan secara tegas. Dijelaskan bahwa motif menunjukan suatu dorongan yang timbul dari dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut mau bertindak melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi adalah ”pendorongan” suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu. (Purwanto, 2002: 71).
Dengan demikian motivasi dapat diartikan sebagai sesuatu dorongan yang menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu (tujuan) yang terdiri dari faktor internal seperti: (a) persepsi seseorang mengenai diri sendiri; (b) harga diri; (c) harapan pribadi; (d) kebutuhaan; (e) keinginan; (f) kepuasan kerja; (g) prestasi kerja yang dihasilkan.
Sedangkan faktor eksternal mempengaruhi motivasi seseorang, antara lain: (a) jenis dan sifat pekerjaan; (b) kelompok kerja dimana seseorang bergabung; (c) organisasi tempat bekerja; (d) situasi lingkungan pada umumnya; (e) sistem imbalan yang berlaku dan cara penerapannya. Diambil dari http://akhmadsudrajat.wordpress.com/ 2008/02/06/teori-teori-motivasi/

2.1.1.2 Fungsi Motivasi
Motivasi mempunyai fungsi yang penting dalam belajar, karena motivasi akan menentukan intensitas usaha belajar yang dilakukan siswa. Hawley (Yusuf 1993 : 14) menyatakan bahwa para siswa yang memiliki motivasi tinggi, belajarnya lebih baik dibandingkan dengan siswa yang motivasi belajarnya rendah. Hal ini dapat dipahami, karena siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan tekun dalam belajar dan terus belajar secara kontinyu tanpa mengenal putus asa serta dapat mengesampingkan hal-hal yang dapat mengganggu kegiatan belajar yang dilakukannya.
Sardiman (1988 : 84) mengemukakan ada tiga fungsi motivasi, yaitu :
1. Mendorong manusia untuk berbuat. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2. Menuntun arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai, dengan demikian motivasi dapat memberi arah, dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
3. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Syaodih (dalam Riduwan, 2005 : 200) menyatakan fungsi dari motivasi adalah:
1. Mendorong anak dalam melaksanakan sesuatu aktivitas dan tindakan
2. Dapat menentukan arah perbuatan seseorang
3. Motivasi berfungsi dalam menyeleksi jenis-jenis perbuatan dan aktivitas seseorang.

Prayitno (dalam Sardiman, 1988) mengatakan bahwa fungsi dari motivasi dalam Proses Belajar Mengajar adalah :
1. Menyediakan kondisi yang optimal bagi terjadinya belajar.
2. Menguatkan semangat belajar siswa.
3. Menimbulkan atau menggugah minat siswa agar mau belajar.
4. Mengikat perhatian siswa agar mau dan menemukan serta memilih jalan/ tingkah laku yang sesuai untuk mencapai tujuan belajar maupun tujuan hidup jangka panjang.

Hamalik (2000 : 175) menyatakan fungsi motivasi adalah :
1. Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi tidak akan timbul perbuatan seperti belajar.
2. Sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan kepada pencapaian tujuan yang diinginkan.
3. Sebagai pengerak, artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Kuat lemahnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan seseorang.

Aspek motivasi dalam keseluruhan proses belajar mengajar sangat penting, karena motivasi dapat mendorong siswa untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu yang berhubungan dengan kegiatan belajar. Motivasi dapat memberikan semangat kepada siswa dalam kegiatan-kegiatan belajarnya dan memberi petunjuk atau perbuatan yang dilakukannya. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka harus dilakukan suatu upaya agar siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi. Dengan demikian siswa yang bersangkutan dapat mencapai hasil belajar yang optimal.

2.1.1.3. Peranan Motivasi dalam Belajar
Motivasi adalah dorongan yang menyebabkan terjadinya suatu perbuatan atau tindakan. Perbuatan belajar pada siswa terjadi karena adanya motivasi untuk melakukan perbuatan belajar.
Motivasi dipandang berperan dalam belajar karena motivasi mengandung nilai-nilai sebagai berikut :
1. Motivasi menentukan tingkat berhasil atau kegagalan perbuatan belajar siswa. Belajar tanpa motivasi kiranya sulit untuk berhasil.
2. Pengajaran yang bermotivasi pada hakikatnya adalah pengajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan, dorongan, motif, minat yang dimiliki oleh siswa.
3. Pengajaran yang bermotivasi membentuk aktivitas dan imaginitas pada guru untuk berusaha secara sungguh-sungguh mencari cara-cara yang sesuai dan serasi guna membangkitkan dan memelihara motivasi belajar siswa. Guru senantiasa berusaha agar siswa-siswa pada akhirnya memiliki self motivasi dan yang baik.
4. Berhasil atau tidak berhasilnya dalam membangkitkan penggunaan motivasi dalam pengajaran sangat erat hubungan dengan aturan disiplin dalam kelas. Ketidakberhasilan dalam hal ini mengakibatkan timbulnya masalah disiplin dalam kelas.
5. Azas motivasi menjadi salah satu bagian yang integral dari asas-asas mengajar. Penggunaan motivasi dalam mengajar bukan saja melengkapi prosedur mengajar, tetapi juga menjadi faktor yang menentukan pengajaran yang efektif. Demikian pengajaran asas motivasi adalah sangat penting dalam proses belajar dan mengajar.( http://pakdesofa.blog2.plasa.com/archives/50)

Siswa dalam belajar hendaknya merasakan adanya kebutuhan psikologis yang normatif. Siswa yang termotivasi dalam belajarnya dapat dilihat dari karakteristik tingkah laku yang menyangkut minat, ketajaman, perhatian, konsentrasi, dan ketekunan. Siswa yang memiliki motivasi rendah dalam belajarnya menampakkan keengganan, cepat bosan, dan berusaha menghindar dari kegiatan belajar.
Disimpulkan bahwa motivasi menentukan tingkat berrhasil tidaknya kegiatan belajar siswa. Motivasi menjadi salah satu faktor yang menentukan belajar yang efektif.

2.1.1.4 Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa

Mengingat demikian pentingnya peranan motivasi bagi siswa dalam belajar, maka guru diharapkan dapat membangkitkan dan meningkatkan motivasi belajar siswa-siswanya. Agar siswa dapat mencapai hasil belajar yang optimal, maka siswa harus memiliki motivasi belajar yang tinggi, namun pada kenyataannya tidak semua siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi dalam belajar. Di sekolah tidak sedikit siswa yang memiliki motivasi belajar rendah. Untuk membantu siswa yang memiliki motivasi belajar rendah perlu dilakukan suatu upaya dari guru agar siswa yang bersangkutan untuk dapat meningkatkan motivasi belajarnya.
Dalam rangka mengupayakan agar motivasi belajar siswa tinggi, seorang guru menurut Winkel (1991 ) hendaknya selalu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
(1) Seorang guru hendaknya mampu mengoptimalisasikan penerapan prinsip belajar. Guru pada prinsipnya harus memandang bahwa dengan kehadiran siswa di kelas merupakan suatu motivasi belajar yang datang dari siswa. Sehingga dengan adanya prinsip seperti itu, ia akan menganggap siswa sebagai seorang yang harus dihormati dan dihargai. Dengan perlakuan semacam itu, siswa tentunya akan mampu memberi makna terhadap pelajaran yang dihadapinya;
(2) Guru hendaknya mampu mengoptimalisasikan unsur-unsur dinamis dalam pembelajaran. Dalam proses belajar, seorang siswa terkadang dapat terhambat oleh adanya berbagai permasalahan. Hal ini dapat disebabkan oleh karena kelelahan jasmani ataupun mental siswa. Untuk itu upaya yang dapat dilakukan seorang guru (Dimyati, 1994 : 95) adalah dengan cara ;
a. memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan hambatan belajar yang di alaminya.
b. meminta kesempatan kepada orang tua siswa agar memberikan kesempatan kepada siswa untuk beraktualisasi diri dalam belajar.
c. memanfaatkan unsur-unsur lingkungan yang mendorong belajar.
d. menggunakan waktu secara tertib, penguat dan suasana gembira terpusat pada perilaku belajar. Pada tingkat ini guru memperlakukan upaya belajar merupakan aktualisasi diri siswa.
e. merangsang siswa dengan penguat memberi rasa percaya diri bahwa ia dapat mengatasi segala hambatan dan pasti berhasil.
(3) Guru mengoptimalisasikan pemanfataan pengalaman dan kemampuan siswa. Perilaku belajar yang ditunjukkan siswa merupakan suatu rangkaian perilaku yang ditunjukkan pada kesehariannya. Untuk itu, maka pengalaman yang diberikan oleh guru terhadap siswa dalam meningkatkan motivasi belajar menurut Dimyati dan Mudjiono (1994) adalah dengan cara ;
a. siswa ditugasi membaca bahan belajar sebelumnya, tiap membaca hal-hal penting dari bahan tersebut dicatat.
b. guru memecahkan hal yang sukar bagi siswa dengan cara memecahkannya.
c. guru mengajarkan cara memecahkan dan mendidik keberanian kepada siswa dalam mengatasi kesukaran.
d. guru mengajak serta siswa mengalami dan mengatasi kesukaran.
e. guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mampu memecahkan masalah dan mungkin akan membantu rekannya yang mengalami kesulitan.
f. guru memberi penguatan kepada siswa yang berhasil mengatasi kesulitan belajarnya sendiri.
g. guru menghargai pengalaman dan kemampuan siswa agar belajar secara mandiri.

Yusuf (1992 : 25) mengemukakan bahwa untuk meningkatkan motivasi siswa, guru mempunyai peranan sebagai berikut :
1. Menciptakan lingkungan belajar yang merangsang anak untuk belajar.
2. Memberi reinforcement bagi tingkah laku yang menunjukkan motif.
3. Menciptakan lingkungan kelas yang dapat mengembangkan curiosity dan kegemaran siswa belajar.

Dengan adanya perlakuan semacam itu dari guru diharapkan siswa mampu membangkitkan motivasi belajarnya dan tentunya harapan yang paling utama adalah siswa mendapatkan hasil belajar yang optimal sesuai dengan kemampuannya. Tentunya untuk mencapai prestasi belajar tersebut tidak akan terlepas dari upaya yang dilakukan oleh guru dalam memberikan motivasi atau dorongan kepada siswa agar dapat meningkatkan motivasi belajarnya.

2.1.2 Prestasi Belajar SMA
2.1.2.1 Hakekat Belajar
Belajar menurut Slameto dalam (http://www.infoskripsi.com) secara psikologis adalah”Suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya atau belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan sesorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang dialami oleh individu yang diperoleh melalui latihan dan pengalaman. Jadi belajar itu ditunjukan oleh adanya perubahan tingkah laku atau penampilan, setelah melaui proses membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan mengalami langsung.

2.1.2.2 Hakikat Pretasi Belajar
Pengertian belajar dari Cronbach (dalam Djamarah, 2000:12) mengemukakan bahwa learning is shown by change in behaviour as a result of experience (belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman). Sementara menurut Wittig (dalam Syah, 2003 : 65-66), belajar sebagai any relatively permanen change in an organism behavioral repertoire that accurs as a result of experience (belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam/ keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman).
Belajar lebih ditekankan pada proses kegiatannya dan proses belajar lebih ditekankan pada hasil belajar yang dicapai oleh subjek belajar atau siswa. Hasil belajar dari kegiatan belajar disebut juga dengan prestasi belajar. Hasil atau prestasi belajar subjek belajar atau peserta didik dipakai sebagai ukuran untuk mengetahui sejauh mana peserta didik dapat menguasai bahan pelajaran yang sudah dipelajari. Menurut Woodworth dan Marquis (dalam Sri, 2004 : 43) prestasi belajar adalah suatu kemampuan aktual yang dapat diukur secara langsung dengan tes.
Dengan demikian, disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan kemampuan aktual yang dapat diukur dan berwujud penguasaan ilmu pengetahuan, sikap, keterampilan, dan nilai-nilai yang dicapai oleh siswa sebagai hasil dari proses belajar mengajar di sekolah. Dengan kata lain, prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai siswa dari perbuatan dan usaha belajar dan merupakan ukuran sejauh mana siswa telah menguasai bahan yang dipelajari atau diajarkan.

2.1.2.3 Prestasi Belajar
Menurut Djalal (1986: 4) bahwa “prestasi belajar siswa adalah gambaran kemampuan siswa yang diperoleh dari hasil penilaian proses belajar siswa dalam mencapai tujuan pengajaran ”. Sedangkan menurut Kamus bahasa Indonesia Millenium (2002: 444)”prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai atau dikerjakan”. Prestasi belajar menurut Hamalik (1994: 45) adalah prestasi belajar yang berupa adanya perubahan sikap dan tingkah laku setelah menerima pelajaran atau setelah mempelajari sesuatu.
Ada banyak pengertian tentang prestasi belajar. Berdasarkan pengertian diatas maka yang dimaksudkan dengan prestasi belajar adalah hasil belajar/ nilai pelajaran sekolah yang dicapai oleh siswa berdasarkan kemampuannya/usahanya dalam belajar.
Prestasi belajar merupakan hasil yang telah dicapai dari suatu proses belajar yang telah dilakukan, sehingga untuk mengetahui sesuatu pekerjaan berhasil atau tidak diperlukan suatu pengukuran. “Pengukuran adalah proses penentuan luas/kuantitas sesuatu” (Nurkancana, 1986: 2). Dalam kegiatan pengukuran hasil belajar, siswa dihadapkan pada tugas, pertanyaan atau persoalan yang harus dipecahkan/dijawab. Hasil pengukuran tersebut masih berupa skor mentah yang belum dapat memberikan informasi kemampuan siswa. Agar dapat memberikan informasi yang diharapkan tentang kemampuan siswa maka diadakan penilaian terhadap keseluruhan proses belajar mengajar sehingga akan memperlihatkan banyak hal yang dicapai selama proses belajar mengajar. Misalnya pencapaian aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotorik. Prestasi belajar menurut Bloom meliputi 3 aspek yaitu ”kognitif, afektif dan psikomotorik”. Dalam penelitian ini yang ditinjau adalah aspek kognitif yang meliputi: pengetahuan, pemahaman, dan penerapan.
Prestasi belajar ditunjukkan dengan skor atau angka yang menunjukkan nilai-nilai dari sejumlah mata pelajaran yang menggambarkan pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa, serta untuk dapat memperoleh nilai digunakan tes terhadap mata pelajaran terlebih dahulu. Hasil tes inilah yang menunjukkan keadaan tinggi rendahnya prestasi yang dicapai oleh siswa.
Prestasi belajar sebagai hasil dari proses belajar siswa biasanya pada setiap akhir semester atau akhir tahun ajaran yang disajikan dalam buku laporan prestasi belajar siswa atau raport. Raport merupakan perumusan terakhir yang diberikan oleh guru mengenai kemajuan atau prestasi belajar (Suryabrata, 1984). Prestasi belajar mempunyai arti dan manfaat yang sangat penting bagi anak didik, pendidik, wali murid dan sekolah, karena nilai atau angka yang diberikan merupakan manifestasi dari prestasi belajar siswa dan berguna dalam pengambilan keputusan atau kebijakan terhadap siswa yang bersangkutan maupun sekolah. Prestasi belajar merupakan kemampuan siswa yang dapat diukur, berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dicapai siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
Benyamin S. Bloom (dalam Nurman, 2006 : 36), prestasi belajar merupakan hasil perubahan tingkah laku yang meliputi tiga ranah kognitif terdiri atas : pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Saifudin Azwar (1996 :44) prestasi belajar merupakan dapat dioperasionalkan dalam bentuk indikator-indikator berupa nilai raport, indeks prestasi studi, angka kelulusan dan predikat keberhasilan.
Melihat dari pengertian prestasi atau hasil belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah perubahan tingkah laku yang berwujud perubahan ilmu pengetahuan, keterampilan motorik, sikap dan nilai yang dapat diukur secara aktual sebagai hasil dari proses belajar.
Prestasi belajar adalah hasil dari pengukuran serta penilaian usaha belajar (Tirtonegoro, 1984 : 43). Dalam setiap perbuatan manusia untuk mencapai tujuan, selalu diikuti oleh pengukuran dan penilaian, demikian pula halnya dengan proses pembelajaran. Dengan mengetahui prestasi belajar, dapat diketahui kedudukan anak di dalam kelas, apakah anak termasuk kelompok pandai, sedang atau kurang. Prestasi belajar ini dinyatakan dalam bentuk angka, huruf maupun simbol pada periode tertentu, misalnya tiap caturwulan atau semester. Nasution (2001 : 439) menyatakan bahwa prestasi belajar adalah penguasaan seseorang terhadap pengetahuan atau keterampilan tertentu dalam suatu mata pelajaran, yang lazim diperoleh dari nilai tes atau angka yang diberikan guru. Bila angka yang diberikan guru rendah, maka prestasi seseorang dianggap rendah. Bila angka yang diberikan guru tinggi, maka prestasi seorang siswa dianggap tinggi sekaligus dianggap sebagai siswa yang sukses dalam belajar. Ini berarti prestasi belajar menuju kepada optimal dari kegiatan belajar, hal senada diungkapkan oleh Woodworth dan Marquis (dalam Supartha, 2004 : 33) bahwa prestasi belajar adalah kemampuan aktual yang dapat diukur secara langsung dengan menggunakan tes. Bloom (dalam Nurman, 2006 : 37) mengatakan bahwa prestasi belajar merupakan hasil perubahan tingkah laku yang meliputi tiga ranah yaitu: kognitif, afektif dan psikomotor.
Menurut Wirawan seperti dikutip Supartha (2004 : 34) mengatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai seseorang dalam usaha belajar yang dilakukan dalam periode tertentu. Prestasi belajar dapat dipakai sebagai ukuran untuk mengetahui materi pelajaran yang telah diajarkan atau dipelajari. Sehubungan dengan itu, Masrun dan Martaniah (dalam Supartha, 2004 : 34) menyatakan bahwa kegunaan prestasi belajar diantaranya adalah : (1) untuk mengetahui efisiensi hasil belajar yang dalam hal ini diharapkan mendorong siswa untuk belajar lebih giat, (2) untuk menyadarkan siswa terhadap tingkat kemampuannya; dengan melihat hasil tes atau hasil ujiannya siswa dapat menyadari kelemahan dan kelebihannya sehingga dapat mengevaluasi dan bagaimana caranya belajar selama ini, (3) untuk petunjuk usaha belajar siswa, dan (4) untuk dijadikan dasar untuk memberikan penghargaan.
Melihat dari pengertian prestasi atau hasil belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah perubahan tingkah laku yang berwujud perubahan ilmu pengetahuan, keterampilan motorik, sikap dan nilai yang dapat diukur secara aktual sebagai hasil dari proses belajar. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, prestasi belajar dalam pendidikan ini secara konseptual diartikan sebagai hasil kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk angka yang mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak baik berupa kemampuan kognitif, afektif, maupun psikomotor yang dapat diukur dari hasil ujian siswa yang terdapat pada raport /kartu hasil studinya.

2.1.2.4 Prestasi Belajar Geografi
Terkait dengan hasil (prestasi) belajar geografi siswa, dapat di ukur dari segi kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan) siswa yang tampak pada : (a) adanya kesadaran untuk membangun dan mengembangkan pemahaman tentang variasi dan organisasi spasial masyarakat, tempat dan lingkungan pada muka bumi. (b). Pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperoleh dalam mata pelajaran Geografi diharapkan dapat membangun kemampuan peserta didik untuk bersikap, bertindak cerdas, arif, dan bertanggungjawab dalam menghadapi masalah sosial, ekonomi, dan ekologis. Dalam kaitannya dengan penelitian ini maka untuk mengukur hasil (prestasi) belajar geografi siswa, digunakan analisis hasil belajar siswa yang terdapat pada nilai hasil dari jawaban siswa terhadap sejumlah pertanyaan yang diberikan oleh peneliti untuk mengukur prestasi belajar siswa.

2.1.2.5 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Perubahan tingkah laku sebagai hasil yang dicapai yang berwujud prestasi belajar dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat berupa : (1) faktor belajar yang berasal dari luar diri si pelajar yaitu lingkungan (lingkungan alami dan lingkungan sosial), instrumental (kurikulum, program, sarana dan guru), (2) faktor yang berasal dari dalam diri si pelajar faktor fisiologis (kondisi fisik secara umum, kondisi panca indera dan faktor psikologis (minat, kecerdasan, bakat, motivasi dan kemampuan kognitif), (Suryabrata, 1987: 233), dan Purwanto (2000) membagi kondisi belajar atas kondisi belajar interen dan kondisi belajar eksteren.
Sardiman AM (1999) ; ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu : faktor yang berasal dari dalam siswa (internal), faktor internal ini biasanya berupa minat, motivasi, kondisi fisik sedangkan faktor yang berasal dari luar diri siswa (eksternal), biasanya berupa : hadiah, guru/dosen, keluarga.
Dengan demikian jelaslah bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar ada dua macam yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah kondisi belajar yang mempengaruhi perbuatan belajar berasal dari diri anak itu sendiri Natawijaya, 1979 : 30) , yang antara lain adalah: motif, kematangan, kondisi jasmani, keadaan alat indera, minat dan kemampuan. Faktor eksternal dalam belajar adalah faktor yang berasal dari luar diri pelajar seperti penghargaan, hadiah, maupun hukuman. Belajar akan lebih berhasil bila individu yang belajar diberikan hadiah yang dapat memperkuat stimulus dan respon. Soeitoe (1987 :105) mengatakan suatu tingkah laku dalam situasi tertentu memberikan kepuasan selalu akan diasosiasikan. Suasana dan tempat belajar juga mempengaruhi individu dalam berlajar baik di sekolah dan di luar sekolah. Keadaan udara, cuaca, dan tempat belajar perlu diatur jangan terlalu dingin dan jangan terlalu panas. Disamping itu cahaya juga penting sekali bagi anak-anak yang berjam-jam lamanya harus menulis dan membaca dengan penuh konsentrasi. Ruangan yang tenang memberikan suasana yang gembira dari pada ruangan yang gelap. Cahaya dapat diperoleh baik dari sebelah kiri maupun sebelah kanan (Nasution, 1974 : 87).
Muhammad Surya (1979), menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, antara lain dari sudut si pembelajar, proses belajar dan dapat pula dari sudut situasi belajar.
Dari sudut si pembelajar (siswa), prestasi belajar seseorang dipengaruhi antara lain oleh kondisi kesehatan jasmani siswa, kecerdasan, bakat, minat dan motivasi, penyesuaian diri dan kemampuan berinteraksi siswa.
Sedangkan yang bersumber dari proses belajar, maka kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran sangat menentukan prestasi belajar siswa. Guru yang menguasai materi pelajaran dengan baik, menggunakan metode dan media pembelajaran yang tepat, mampu mengelola kelas dengan baik dan memiliki kemampuan untuk menumbuh kembangkan motivasi belajar siswa untuk belajar, akan memberi pengaruh yang positif terhadap prestasi belajar siswa untuk belajar, akan memberi pengaruh yang positif terhadap prestasi belajar siswa. Sedangkan situasi belajar siswa, meliputi situasi lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat sekitar.

Secara skematis, faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa dapat digambarkan sebagai berikut:

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah faktor internal (minat, motivasi, kecerdasan, kondisi fisik, dan lain-lain) dan faktor eksternal (hadiah, guru/dosen, keluarga, sarana, kurikulum, lingkungan, dan lain-lain).

2.1.2.6 Penilaian Prestasi Belajar
Untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar perlu dilakukan penilaian (evaluasi). Dengan penilaian dapat diketahui kemampuan, kesanggupan, penguasaan seseorang tentang pengetahuan keterampilan dan nilai-nilai. Penilaian pendidikan adalah penilaian tentang perkembangan dan kemajuan siswa yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum, Harahap (Supartha, 2004:36). Tujuan penilaian adalah untuk mengetahui dan mengumpulkan informasi terhadap perkembangan dan kemajuan, dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan dalam kurikulum. Fungsi penilaian dapat dikatakan sebagai suatu evaluasi yang dilakukan sekolah mempunyai tiga fungsi pokok yang penting, yaitu: (1) untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan, dalam rangka waktu tertentu, (2) untuk mengetahui sampai di mana perbaikan suatu metode yang digunakan guru dalam mendidik dan mengajar, dan (3) dengan mengetahui kesalahan dan kekurangan yang terdapat dalam evaluasi selanjutnya dapat diusahakan perbaikan, Purwanto (2000 : 10).
Pendapat lain menyatakan bahwa fungsi penilaian dalam proses belajar mengajar antara lain: (1) untuk memberikan umpan balik kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar serta memperbaiki belajar bagi murid, (2) untuk memberikan angka yang tepat tentang kemajuan atau hasil belajar dari murid, (3) untuk menempatkan murid dalam situasi belajar mengajar yang tepat sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki oleh murid, dan (4) untuk mengenal latar belakang murid yang mengalami kesulitan belajar yang dapat digunakan sebagai dasar untuk memecahkan kesulitan itu, Harahap (dalam Supartha, 2004:37).
Penilaian dalam pendidikan ada beberapa jenis, yaitu penilaian formatif, sumatif, penempatan, dan diagnostik, Harahap (Supartha, 2004:37). Di samping itu, dapat juga dikatakan bahwa jenis-jenis penilaian sebagai berikut: (1) ulangan harian mencakup bahan kajian satu pokok bahasan atau beberapa pokok bahasan untuk memperoleh umpan balik bagi guru, (2) ulangan umum merupakan ulangan yang mencakup seluruh pokok bahasan, konsep, tema, atau unit dalam catur wulan atau semester yang bersangkutan dalam kelas yang sama. Hasil ulangan umum selain untuk mengetahui pencapain siswa juga digunakan untuk keperluan laporan kepada orang tua siswa dan keperluan administrasi lain, bentuk alat penilaiannya adalah berupa pilihan ganda dan sering dilakukan secara bersama-sama pada suatu wilayah maupun wilayah tingkat I, (3) ujian akhir, ujian akhir ada yang bersifat nasional, ada yang bersifat regional, dan ada yang bersifat lokal. Hasil penilaian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan kelulusan siswa dan digunakan untuk pemberian surat tanda tamat belajar (Depdikbud, 1997 : 7).
Teknik dan alat penilaian sering digunakan kepala sekolah adalah: (1) teknik tes, terdiri dari tes tertulis, yaitu: tes objektif dan tes uraian, tes lisan, dan tes perbuatan, (2) teknik non tes yang dilaksanakan melalui observasi maupun pengamatan (Depdiknas, 2000 : 4).

2.2 Kerangka Berpikir dan Hipotesis Tindakan
2.2.1 Kerangka Berpikir
Hubungan Antara Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar Siswa
Motivasi belajar adalah dorongan yang ada pada seseorang untuk melakukan kegiatan belajar. Motivasi belajar sangat penting peranannya bagi siswa dalam usaha mencapai prestasi belajar yang tinggi. Siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi, cenderung menunjukkan semangat dan kegairahan dalam mengikuti pembelajaran, mereka biasanya kelihatan lebih menaruh perhatian bersungguh-sungguh dalam belajar dan aktif berpartisipasi dalam kegaiatn pembelajaran, baik di kelas maupun di luar kelas.
Siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi akan lebih tekun, bersemangat, lebih tahan dan memiliki ambisi yang lebih tinggi dalam mencapai prestasi belajar yang lebih baik, dibandingkan dengan siswa yang kurang atau tidak memiliki motivasi belajar. Mereka yang tidak memiliki motivasi belajar akan kelihatan kurang atau tidak bergairah dalam belajar maupun mengikuti pembelajaran di kelas, tidak menaruh perhatian terhadap pelajaran yang dipelajari, apatis dan tidak berpartisipasi aktif dalam belajar. Kondisi siswa yang kurang memiliki motivasi belajar sudah tentu tidak mampu menghasilkan prestasi yang memuaskan.
Dalam kaitannya dengan materi pelajaran geografi, selama ini siswa cenderung tidak memiliki minat untuk mempelajarinya. Hal ini tidak terlepas dari kurangnya motivasi yang diberikan oleh pengajar dalam proses belajar mengajar.
Berdasarkan kerangka berpikir tersebut di atas, maka dapat diduga adanya hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar geografi siswa.

2.2.2 Hipotesis Penelitian
Untuk menjawab permasalahan yang diajukan, maka jawaban sementara yang akan dibuktikan kebenarannya adalah: “Terdapat hubungan signifikan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran geografi SMA Negeri 2 Singaraja.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian
Adapun jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian ex post facto dengan pendekatan korelasional. Metode ini digunakan karena peneliti berusaha mengetahui variable terikat (Prestasi Belajar) pada siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 2 Singaraja.

3.1.2 Rancangan Penelitian
Adapun rancangan penelitian dapat digambarkan sebagai berikut :

(Dimodifikasi dari Arikunto, 1998 : 31)

Keterangan :
X = Motivasi belajar siswa
Y = Prestasi belajar siswa
= Menyatakan hubungan

3.1.3 Identifikasi Variabel
3.1.3.1 Variabel bebas : motivasi belajar siswa
3.1.3.2 Variabel terikat : prestasi belajar siswa

3.2 Definisi Operasional Variabel Penelitian
3.2.1 Motivasi Belajar Siswa
Motivasi dalam penelitian ini merupakan suatu daya atau kekuatan yang timbul dari dalam diri siswa untuk memberikan kesiapan agar tujuan yang telah ditetapkan tercapai. Sedangkan belajar dalam penelitian ini merupakan suatu proses yang dilakukan siswa untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang lebih baik dan sebelumnya sebagai hasil pengalaman siswa dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Berdasarkan pengertian di atas, maka secara operasional motivasi belajar dalam penelitian ini adalah respon siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 2 Singaraja tahun pelajaran 2008/2009 terhadap sejumlah pernyataan mengenai keseluruhan usaha yang timbul dari dalam diri siswa agar tumbuh dorongan untuk belajar dan tujuan yang dikehendaki oleh siswa tercapai, yang diungkap melalui instrumen angket, yaitu:
1) Ketekunan dalam belajar, meliputi :
a. Kehadiran di kelas,
b. Mengikuti proses belajar mengajar di kelas, dan
c. Belajar di rumah
2) Ulet dalam menghadapi kesulitan belajar, meliputi:
11.4. Sikap terhadap kesulitan dan
21.4. Usaha mengatasi kesulitan;
3) Minat dan ketajaman perhatian dalam belajar, meliputi:
a. Kebiasaan dalam mengikuti pelajaran dan
b. Semangat dalam mengikuti proses belajar mengajar;
4) Prestasi dalam belajar, meliputi:
a. Keinginan untuk berprestasi, dan
b. Kualifikasi hasil;
5) Mandiri dalam belajar, meliputi :
a. Penyelesaian tugas-tugas/PR, dan
b. Menggunakan kesempatan diluar jam pelajaran

3.2.2 Prestasi Belajar Siswa
Prestasi belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah, jumlah skor tes hasil belajar bidang studi geografi yang diperoleh melalui tes (dalam hal ini tes yang disusun oleh peneliti)

3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi adalah himpunan subjek penelitian (Arikunto, 2000 : 125). Populasi dari penelitian ini adalah semua siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 2 Singaraja yang tersebar pada 2 kelas dengan rata-rata siswa per kelas = 40 orang, sehingga populasinya berjumlah 80 orang siswa.

3.3.2 Sampel
Sampel penelitian ini ditentukan sebanyak 80 siswa atau seluruh siswa dari 2 kelas IPS yang ada, dengan alasan karena populasinya di bawah 100, sampel di ambil dari keseluruhan populasi yang ada sehingga disebut penelitian populasi.

3.4 Metode Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian
Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode Kuesioner dan tes.
1) Kuesioner
Kuesioner adalah pengambilan data melalui pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan diri informan (responden). Instrument (alat) yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah kuesioner atau daftar pertanyaan yang disusun sendiri oleh peneliti dan sudah barang tentu materi pertanyaan akan disesuaikan dengan kondisi siswa berdasarkan teori-teori yang telah dikemukakan pada bab II.
2) Tes
Metode tes adalah metode pengumpulan data dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan tingkat pengetahuan siswa terhadap materi pembelajaran setelah mengalami proses pembelajaran di kelas. Instrumen yang digunakan adalah tes yaitu tes pilihan ganda (multiple choice) dengan 5 (lima) pilihan jawaban. Tes ini disusun oleh peneliti berdasarkan standar isi dan standar kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa pada materi pelajaran Geografi semester ganjil.
Penggunaan kedua teknik tersebut sangat penting, dimana kedua teknik ini dilakukan secara bersama-sama untuk mendapatkan data yang akurat dan sarat makna.

3.4.1 Validitas Instrumen Tes dan Non Tes
Uji validitas dilakukan berkenaan dengan ketepatan alat ukur terhadap konsep yang diukur sehingga benar-benar dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Untuk menghitung validitas alat ukur dalam penelitian ini digunakan dua rumus matematika yaitu: 1) rumus korelasi point biserial untuk menghitung validitas butir tes dan 2) rumus korelasi product moment untuk menghitung validitas butir non tes.
1) Validitas Butir Tes
Untuk validitas butir soal (tes) digunakan rumus korelasi point biserial, dengan rumusan :

Keterangan:
pbis r = koefisien korelasi point biserial
Mp = rata-rata skor dari subjek yang menjawab benar
Mt = rata-rata skor total
SD = Standar Deviasi
p = proporsi siswa yang menjawab benar
q = proporsi jawaban salah (q = 1 – p)

Perhitungan validitas butir soal hasil belajar siswa ini menggunakan bantuan program Mikrosoft Excel. (Langkah perhitungan terlampir)
Tabel : Ringkasan hasil uji validitas butir tes hasil belajar Geografi siswa kelas XI IPSSMAN 2 Singaraja.

Nomor Butir Jumah p q Mp Mt SD rpbis rtabel Keterangan
1 56 0.563 0.438 25.607 25.738 10.130 -0.015 0.271 DROP
2 51 0.638 0.363 29.490 0.491 0.271 VALID
3 49 0.613 0.388 27.245 0.187 0.271 DROP
4 53 0.663 0.338 30.151 0.610 0.271 VALID
5 51 0.638 0.363 29.490 0.491 0.271 VALID
6 36 0.450 0.550 30.056 0.386 0.271 VALID
7 35 0.438 0.563 30.143 0.384 0.271 VALID
8 36 0.450 0.550 28.639 0.259 0.271 DROP
9 42 0.525 0.475 26.762 0.106 0.271 DROP
10 53 0.663 0.338 26.226 0.068 0.271 DROP
11 47 0.588 0.413 27.702 0.231 0.271 DROP
12 33 0.413 0.588 28.182 0.202 0.271 DROP
13 39 0.488 0.513 28.436 0.260 0.271 DROP
14 50 0.625 0.375 26.860 0.143 0.271 DROP
15 53 0.663 0.338 30.151 0.610 0.271 VALID
16 51 0.638 0.363 29.490 0.491 0.271 VALID
17 41 0.513 0.488 27.854 0.214 0.271 DROP
18 37 0.463 0.538 28.054 0.212 0.271 DROP
19 34 0.425 0.575 26.059 0.027 0.271 DROP
20 37 0.463 0.538 30.027 0.393 0.271 VALID
21 36 0.450 0.550 29.111 0.301 0.271 VALID
22 29 0.363 0.638 31.172 0.405 0.271 VALID
23 47 0.588 0.413 27.809 0.244 0.271 DROP
24 39 0.488 0.513 29.205 0.334 0.271 VALID
25 46 0.575 0.425 31.609 0.674 0.271 VALID
26 34 0.425 0.575 32.235 0.551 0.271 VALID
27 31 0.388 0.613 34.290 0.672 0.271 VALID
28 28 0.350 0.650 26.179 0.032 0.271 DROP
29 44 0.550 0.450 30.114 0.478 0.271 VALID
30 42 0.525 0.475 27.190 0.151 0.271 DROP
31 46 0.575 0.425 31.609 0.674 0.271 VALID
32 34 0.425 0.575 32.235 0.551 0.271 VALID
33 31 0.388 0.613 34.290 0.672 0.271 VALID
34 33 0.413 0.588 27.636 0.157 0.271 DROP
35 54 0.675 0.325 26.352 0.087 0.271 DROP
36 46 0.575 0.425 31.609 0.674 0.271 VALID
37 27 0.338 0.663 33.370 0.538 0.271 VALID
38 31 0.388 0.613 34.290 0.672 0.271 VALID
39 53 0.663 0.338 30.151 0.610 0.271 VALID
40 51 0.638 0.363 29.490 0.491 0.271 VALID
41 44 0.550 0.450 28.591 0.311 0.271 VALID
42 45 0.563 0.438 27.022 0.144 0.271 DROP
43 43 0.538 0.463 28.953 0.342 0.271 VALID
44 48 0.600 0.400 27.813 0.251 0.271 DROP
45 46 0.575 0.425 31.609 0.674 0.271 VALID
46 34 0.425 0.575 32.235 0.551 0.271 VALID
47 31 0.388 0.613 34.290 0.672 0.271 VALID
48 46 0.575 0.425 31.609 0.674 0.271 VALID
49 25 0.313 0.688 33.520 0.518 0.271 VALID
50 31 0.388 0.613 34.290 0.672 0.271 VALID

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa butir soal yang termasuk ke dalam kategori “Valid” adalah sebanyak 31 butir soal yaitu butir nomor : 2, 4, 5, 6, 7, 15, 16, 20, 21, 22, 24, 25, 26, 27, 29, 31, 32, 33, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 43, 45, 46, 47, 48, 49, dan 50. Adapun butir soal yang perlu dipertimbangkan untuk dilakukan perbaikan adalah sebanyak 19 butir soal yaitu butir soal yang dikategorikan“Tidak Valid/Drop” seperti butir soal nomor: 1, 3, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 17, 18, 19, 23, 28, 30, 34, 35, 42, dan 44.

2) Validitas Butir Non Tes
Validitas butir kuesioner motivasi belajar siswa dipertimbangkan berdasarkan koefisien korelasi antara skor total dengan skor item. Mengingat kuesioner motivasi belajar bersifat non tes, maka statistik korelasi yang digunakan adalah statistik korelasi product moment (Guilford, 1973:85) sebagai berikut:
rhitung =

Dimana :
rhitung = Koefisien korelasi
Xi = Jumlah skor item
Yi = Jumlah skor total (seluruh item)
n = Jumlah responden

Kriteria yang digunakan adalah dengan membandingkan harga rxy ke tabel r product moment, dengan ketentuan rxy dikatakan valid apabila rhit > rtabel pada taraf signifikansi 5%. Kuesioner motivasi belajar siswa ini diujicobakan terhadap 80 orang siswa yaitu SMA Muhammadiyah 2 Singaraja sebanyak 40 orang dan SMAN 2 Singaraja sebanyak 40 orang siswa.
Perhitungannya menggunakan bantuan program Mikrosoft Excel. (Hasil perhitungan terlampir).
Tabel 3.2 : Ringkasan hasil uji validitas butir soal kuesioner motivasi belajar siswa kelas XI IPS SMAN 2 Singaraja.
No Butir rhitung rtabel keterangan
1 0.217 0.287 DROP
2 0.466 0.287 VALID
3 0.513 0.287 VALID
4 0.495 0.287 VALID
5 0.179 0.287 DROP
6 0.391 0.287 VALID
7 0.597 0.287 VALID
8 0.479 0.287 VALID
9 0.365 0.287 VALID
10 0.467 0.287 VALID
11 0.574 0.287 VALID
12 0.511 0.287 VALID
13 0.467 0.287 VALID
14 0.554 0.287 VALID
15 0.633 0.287 VALID
16 0.417 0.287 VALID
17 0.604 0.287 VALID
18 0.251 0.287 DROP
19 0.554 0.287 VALID
20 0.605 0.287 VALID
21 0.516 0.287 VALID
22 0.511 0.287 VALID
23 0.621 0.287 VALID
24 0.491 0.287 VALID
25 0.310 0.287 VALID
26 0.390 0.287 VALID
27 0.572 0.287 VALID
28 0.505 0.287 VALID
29 0.285 0.287 DROP
30 0.355 0.287 VALID
31 0.657 0.287 VALID
32 0.702 0.287 VALID
33 0.503 0.287 VALID
34 0.640 0.287 VALID
35 0.310 0.287 VALID
36 0.097 0.287 DROP
37 0.201 0.287 DROP
38 0.609 0.287 VALID
39 0.356 0.287 VALID
40 0.610 0.287 VALID
41 0.230 0.287 DROP
42 0.655 0.287 VALID
43 0.430 0.287 VALID
44 0.636 0.287 VALID
45 0.528 0.287 VALID
46 0.578 0.287 VALID

Dari tabel 3.2 di atas, diperoleh 39 butir soal yang termasuk ke dalam kategori “Valid” adalah yaitu butir nomor : 2, 3, 4, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 38, 39, 40, 42, 43, 44, 45, dan 46. Adapun butir soal yang perlu dipertimbangkan untuk dilakukan perbaikan atau termasuk dalam kategori drop adalah sebanyak 7 (tujuh) butir, yaitu butir soal nomor: 1, 5, 18, 29, 36, 37,dan 41.

3.4.2 Reliabilitas Instrumen Tes dan Non Tes
Uji reliabilitas dilakukan untuk mendapatkan tingkat ketepatan (keterandalan atau keajegan) alat pengumpul data (instrumen) yang digunakan, yakni dengan membuang butir/item yang tidak valid (drop).
1) Reliabilitas Instrumen Tes Hasil Belajar
Untuk menghitung derajat reliabilitas tes hasil belajar siswa digunakan rumus Kuder-Richardson (KR-20) dengan rumus:

Keterangan:
k = banyak butir soal
p = proporsi peserta tes yang menjawab benar butir soal.
q = 1 – p
Vt = Varian Total
kriteria derajat reliabilitas alat ukur yang digunakan yaitu: kriteria yang dibuat oleh J. Guilford (1973), sebagai berikut:
r 11 derajat reliabilitas Sangat Rendah
0,20 ≤ r11 ≤ 0,40 derajat reliabilitas Rendah
0,40  rderajat reliabilitas Sedang
0,60 ≤ r11 derajat reliabilitas Tinggi
0,80 r111,00 derajat reliabilitas Sangat Tinggi

Dari hasil perhitungan terhadap tingkat reliabilitas tes hasil belajar Geografi siswa kelas XI IPS SMAN 2 Singaraja diperoleh hasil sebagaimana dituangkan dalam table ringkasan berikut:

Tabel 3.3 : Tabel Ringkasan Hasil Uji Reliabilitas tes hasil belajar Geografi Siswa kelas XI di SMAN 2 Singaraja
k p q pq ∑ pq Vt r11
31 0.638 0.363 0.231 7.390 102.626 0.959
0.663 0.338 0.224
0.638 0.363 0.231
0.450 0.550 0.248
0.438 0.563 0.246
0.663 0.338 0.224
0.638 0.363 0.231
0.463 0.538 0.249
0.450 0.550 0.248
0.363 0.638 0.231
0.488 0.513 0.250
0.575 0.425 0.244
0.425 0.575 0.244
0.388 0.613 0.237
0.550 0.450 0.248
0.575 0.425 0.244
0.425 0.575 0.244
0.388 0.613 0.237
0.575 0.425 0.244
0.338 0.663 0.224
0.388 0.613 0.237
0.663 0.338 0.224
0.638 0.363 0.231
0.550 0.450 0.248
0.538 0.463 0.249
0.575 0.425 0.244
0.425 0.575 0.244
0.388 0.613 0.237
0.575 0.425 0.244
0.313 0.688 0.215
0.388 0.613 0.237

Berdasarkan nilai pada tabel 3.3 di atas, didapatkan hasil perhitungan sebagai berikut:
k = 31
Vt = 102,626
pq = 7,390

Hasil di atas dimasukkan ke dalam rumus KR-20:

KR-20 = 0,96

Dari hasil perhitungan di atas didapat r11 = 0,96 dengan menggunakan kriteria derajat reliabilitas alat ukur yang digunakan yaitu: kriteria yang dibuat oleh J. Guilford (1973), sebagai berikut:
r 11 derajat reliabilitas Sangat Rendah
0,20 ≤ r11 ≤ 0,40 derajat reliabilitas Rendah
0,40  rderajat reliabilitas Sedang
0,60 ≤ r11 derajat reliabilitas Tinggi
0,80 r111,00 derajat reliabilitas Sangat Tinggi

Dengan demikian, dapat diinterpretasikan bahwa tingkat atau derajat reliabilitas tes hasil belajar siswa yang digunakan dalam penelitian ini termasuk ke dalam kategori SANGAT TINGGI

2) Reliabilitas Instrumen Non Tes
Untuk mengetahui tingkat keajegan (reliabilitas) kuesioner motivasi belajar siswa dilakukan dengan membuang item yang tidak valid, selanjutnya ditentukan dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach (Suharsimi, 1996:104) sebagai berikut:

Keterangan:
k = banyaknya butir tes
SDt = Varian skor total
SDi = Varian skor butir ke-i

Perhitungannya dengan menggunakan bantuan program Mikrosoft Excel. (Hasil perhitungan terlampir)
Dari hasil perhitungan terhadap data penelitian yang diperoleh, dapat dibuat sebuah ringkasan sebagaimana dijabarkan dalam table berikut:

Tabel 3.4: Ringkasan hasil uji reliabilitas motivasi belajar Geografi Siswa kelas XI di SMAN 2 Singaraja.

No Butir k k-1 Varbutir Sigvarbutir Vartotal
2 39 38 0.895 32.024 338.651
3 0.304
4 0.592
6 0.449
7 0.661
8 0.402
9 0.679
10 0.668
11 1.216
12 0.587
13 0.953
14 0.666
15 1.024
16 0.641
17 1.073
19 1.031
20 0.957
21 0.920
22 0.589
23 0.992
24 0.727
25 1.134
26 0.538
27 1.451
28 0.599
30 0.283
31 1.112
32 0.488
33 0.583
34 0.929
35 0.521
38 1.008
39 0.720
40 1.134
42 1.364
43 0.800
44 1.144
45 0.735
46 1.456

Dari table 3.4 di atas diperoleh nilai dimasukkan ke dalam rumus Alpha Cronbach:

r11= 0,93

Dari hasil perhitungan di atas, diperoleh r11= 0,93. dengan menggunakan kriteria derajat reliabilitas alat ukur yang digunakan yaitu: kriteria yang dibuat oleh J. Guilford (1973), sebagai berikut:
r 11 derajat reliabilitas Sangat Rendah
0,20 ≤ r11 ≤ 0,40 derajat reliabilitas Rendah
0,40  rderajat reliabilitas Sedang
0,60 ≤ r11 derajat reliabilitas Tinggi
0,80 r111,00 derajat reliabilitas Sangat Tinggi

Dengan demikian, dapat diinterpretasikan bahwa tingkat atau derajat reliabilitas motivasi belajar siswa yang digunakan dalam penelitian ini termasuk ke dalam kategori SANGAT TINGGI

3.5 Metode Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis statistik deskriptif dan analisis korelasi untuk menguji hipotesis penelitian. Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui nilai kecenderungan data hasil penelitian yaitu dengan jalan menguraikan atau menjabarkan data-data variabel penelitian (motivasi dan prestasi belajar) seperti: mean, median, range, dan standar deviasi.
Untuk statistik deskriptif masing-masing variabel diukur nilai pemusatannya dengan mencari nilai Skor Maksimal ideal, Skor Minimal Ideal, Mean Ideal (Mi) dan Standar Deviasi Ideal (SDi). Rumus yang digunakan untuk mencari rata-rata ideal (Mi) adalah ½ (Skor maksimal ideal + skor minimal ideal) dan untuk mencari Standar Deviasi Ideal digunakan rumus 1/6 (skor maksimal ideal – skor minimal ideal).
Selanjutnya nilai standar deviasi ideal (SDi) dan rata-rata/mean ideal (Mi) dikonversikan ke dalam 5 (lima) kategori nilai kecenderungan dengan kriteria sebagai berikut.
Mi + 1,5 SDi – Mi + 3,0 SDi  Sangat Tinggi
Mi + 0,5 SDi – Mi + 1,5 SDi  Tinggi
Mi – 0,5 SDi – Mi + 0,5 SDi  Sedang
Mi – 1,5 SDi – Mi – 0,5 SDi  Rendah
Mi – 3,0 SDi – Mi – 1,5 SDi  Sangat Rendah
Keterangan:
Mi = Rata-rata ideal
SDi = Standar Deviasi Ideal.
Selanjutnya, analisis korelasi dilakukan untuk mengetahui kuat lemahnya hubungan antar variabel yang dianalisis. Menjawab rumusan masalah yaitu seberapa besar hubungan antara motivasi dengan prestasi belajar siswa di SMA yang didesain sebagai berikut:

Gambar 01. Desain Penelitian X dan Y
(Dimodifikasi dari Arikunto, 1998 : 31)

Analisis korelasi yang digunakan adalah (PPM) Pearson Product Moment. Teknik analisis Korelasi PPM termasuk teknik statistik parametrik yang mengunakan data interval dan ratio dengan persyaratan tertentu. Misalnya: data dipilih secara acak (random); datanya berdistribusi normal; data yang dihubungkan berpola linier; dan data yang dihubungkan mempunyai pasangan yang sama sesuai dengan subjek yang sama. Kalau salah satu tidak terpenuhi persyaratan tersebut analisis korelasi tidak dapat dilakukan. Rumus korelasi PPM sebagai berikut:

rXY =

(Arikunto, 2000 : 425-426)
Keterangan :
rXY = koefisien korelasi yang dicari
n = banyaknya subjek pemilik nilai
X = nilai variabel X
Y = nilai variabel Y

Korelasi PPM dilambangkan (r) dengan ketentuan nilai r tidak lebih dari harga (-1  r  + 1). Apabila nilai r = – 1 artinya korelasinya negatif sempurna; r = 0 artinya tidak ada korelasi; dan r = 1 berarti korelasinya sangat kuat. Sebelum dilakukan analisis data, maka terlebih dahulu dilakukan uji persyaratan analisis yang terdiri dari: 1) Uji normalitas data, dan 2) Uji Linieritas (Candiasa, 2007:1-8)

1) Uji Normalitas Data
Pengujian normalitas data dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS10 for Windows. Hasil keluaran SPSS10 for Windows terdiri dari tiga jenis keluaran yaitu: Processing Summary, Descriptives, Tes of Normality, dan Q-Q plots. Untuk tujuan uji normalitas data dalam penelitian ini digunakan teknik uji Kolmogorov-Smirnov. Hipotesis yang diuji adalah:
Ho : Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal
H1 : Sampel tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal

Aturan Pengambilan Keputusan:
Normalitas dipenuhi jika hasil uji tidak signifikan untuk suatu taraf signifikansi (α) tertentu (biasanya α=0,05 atau α=0,01). Sebaliknya, jika hasil uji signifikan maka normalitas data tidak terpenuhi. Cara mengetahui signifikan atau tidak signifikan hasil uji normalitas adalah dengan memperhatikan bilangan pada kolom signifikansi (Sig.) untuk menetapkan kenormalan, kriteria yang berlaku adalah sebagai berikut.
• Tetapkan taraf signifikansi uji misalnya α = 0,05
• Bandingkan p dengan taraf signifikansi yang diperoleh
• Jika signifikansi yang diperoleh > α, maka sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
• Jika signifikansi yang diperoleh α = 0,05. Berarti model regresi linear.
Setelah persyaratan analisis data sebagaimana diuraikan di atas dipenuhi, langkah selanjutnya adalah melakukan analisis terhadap data penelitian. Langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut:
1) Mencari koefisien korelasi variabel X dengan variabel Y dengan menggunakan rumus korelasi product moment angka kasar.
rxly =

(Arikunto, 2000 : 425-426)
Keterangan :
Rxly = koefisien korelasi yang dicari
N = banyaknya subjek pemilik nilai
X = nilai variabel X
Y = nilai variabel Y

2) Melakukan uji signifikansi koefisien korelasi variabel X dengan variabel Y.
Kriteria :
Ha : terdapat hubungan positif signifikan antara motivasi dengan prestasi belajar siswa.

Ho : tidak terdapat hubungan positif signifikan antara motivasi dengan prestasi belajar siswa.

Jika rtab  rhit, maka Ha diterima dan Ho ditolak. Artinya terdapat hubungan antara motivasi dengan prestasi belajar siswa.

3.6 Koefisien Diterminan
Selanjutnya untuk menyatakan besar kecilnya sumbangan variabel X terhadap Y dapat ditentukan dengan rumus koefisien diterminan. Koefisien determinasi adalah kuadrat dari koefisien korelasi PPM yang dikalikan dengan 100%. Dilakukan untuk mengetahui seberapa besar variabel X (motivasi) mempunyai kontribusi atau ikut menentukan variabel Y (prestasi belajar siswa). Derajat koefisien determinasi dicari dengan menggunakan rumus :

Dimana: KP = Koefisien Diterminasi
r = Nilai Koefisien Korelasi

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini disajikan hasil penelitian yang mencakup penggambaran (deskripsi) tentang karakteristik masing-masing variable penelitian dan deskripsi tentang hasil pengujian hipotesis. Hasil penelitian yang dimaksudkan di atas adalah menyangkut beberapa masalah pokok yang tertuang dalam rumusan masalah yaitu deskripsi tentang motivasi belajar dan prestasi belajar Geografi siswa. Pemaparan dijabarkan dari: 1) Deskripsi data hasil penelitian, 2) Uji persyaratan analisis, 3) Uji hipotesis , dan 4) Pembahasan hasil.

4. 1 Deskripsi Data Hasil Penelitian
4.1.1. Variabel X (Motivasi Belajar Siswa)
Berdasarkan pada hasil angket yang disampaikan kepada 80 orang responden (sampel penelitian) dengan kuesioner yang terdiri atas 39 butir pertanyaan diperoleh skor tertinggi adalah 188 dari skor maksimal yang bisa dicapai oleh siswa yaitu 195, skor terendah adalah 105 dari nilai terendah yang bisa dicapai yaitu 39, nilai rata-rata (mean) sama dengan 78,51, dan standar deviasi sama dengan 6,86. Untuk lebih ringkasnya, dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.1: Deskripsi data motivasi belajar siswa
Statistic Std. Error
Motivasi Belajar Mean 144.4000 1.73009
95% Confidence Lower Bound 140.9563
Interval for Mean Upper Bound 147.8437

5% Trimmed Mean 144.3889
Median 143.0000
Variance 239.458
Std. Deviation 15.47444
Minimum 105.00
Maximum 188.00
Range 83.00
Interquartile Range 17.00
Skewness 0.101 0.269
Kurtosis 0.123 0.532

Dari tabel di atas, dapat diketahui gambaran data secara umum mengenai nilai maksimum, nilai minimum, range, standar deviasi, standar error, mean, median, varian dan sebagainya. Akan tetapi secara khusus tabel tersebut belum memberikan jawab terhadap pertanyaan berapa banyak siswa yang memiliki motivasi tinggi, sedang dan rendah? Sebagaimana yang telah dijabarkan pada bab III tentang analisis deskriptif terhadap data penelitian. Dalam artian bahwa data tersebut perlu diurai kembali menjadi bagian yang lebih rinci ke dalam tabel frekuensi dan histogram, sehingga dapat dipahami dengan lebih mudah oleh orang lain. Berikut adalah tabel frekuensi dan grapik (histogram) motivasi belajar siswa kelas XI IPS SMAN 2 Singaraja.

Tabel 4.2: Frekuensi skor Motivasi Belajar Siswa kelas XI IPS SMAN 2 Singaraja
Interval Batas Bawah Frekuensi Nilai Tengah
105 - 115 104.5 2 110
116 - 126 115.5 8 121
127 - 137 126.5 13 132
138 - 148 137.5 27 143
149 - 159 148.5 15 154
160 - 170 159.5 12 165
171 - 181 170.5 3 176
JUMLAH 80

Dengan melihat tabel tersebut dapat diketahui skor motivasi siswa terbanyak pada interval 138 – 148 yaitu sebanyak 27 orang atau 33,75%, sebaliknya sebaran skor motivasi belajar siswa yang paling sedikit terdapat pada interval 105 – 115 sebanyak 2 orang (2,5%) dan interval 171 – 181 sebanyak 3 orang (3,75%). Apabila frekuensi skor perolehan motivasi belajar tersebut dimasukkan ke dalam grapik (histogram), maka akan tampak grapik sebagaimana berikut.
__
Sedangkan untuk mengetahui tingkat kecenderungan skor motivasi belajar siswa kelas XI IPS SMAN 2 Singaraja, dapat dilakukan dengan mencari mean ideal dan standar deviasi ideal sebagai berikut: 1) skor maksimal ideal 195 dan minimal 39, diperoleh mean ideal (Mi) = ½ (Skor maksimal + skor minimal) sehingga diperoleh Mi = ½ (195 + 39) =117, sedangkan SDi = 1/6 (skor maksimal – skor minimal = 1/6 (195 – 39) = 26. Nilai SDi dan Mi kemudian dikonversikan ke dalam tabel kecenderungan dengan 5 (lima) kategori sebagaimana berikut.
Mi + 1,5 SDi – Mi + 3,0 SDi
117 + 1,5 (26) – 117 + 3,0 (26)
156 – 195 ——————————— Sangat Tinggi
Mi + 0,5 SDi – Mi + 1,5 SDi
117 + 0,5 (26) – 117 + 1,5 (26)
130 – < 156 ——————————- Tinggi
Mi – 0,5 SDi – Mi + 0,5 SDi
117 – 0,5 (26) – 117 + 0,5 (26)
104 — < 130 ——————————- Sedang
Mi – 1,5 SDi – Mi – 0,5 SDi
117 – 1,5 (26) – 117 – 0,5 (26)
78 – < 104 ——————————– Rendah
Mi – 3,0 SDi – Mi – 1,5 SDi
117 – 3,0 (26) – 117 – 1,5 (26)
39 – < 78 ———————————- Sangat Rendah
Rata-rata (mean) skor motivasi belajar siswa sebesar 144,40 terletak pada rentangan 130 — < 156 yaitu termasuk ke dalam kategori Tinggi.
4.1.2 Variabel Y (Hasil Belajar Siswa)
Dari 31 butir tes hasil belajar yang disampaikan kepada 80 orang responden (sampel penelitian) diperoleh skor tertinggi adalah 88 dari skor maksimal yang bisa dicapai oleh siswa yaitu 100, skor terendah adalah 70 dari nilai terendah yang bisa dicapai yaitu 0, nilai rata-rata (mean) sama dengan 78,51, dan standar deviasi sama dengan 6,86. Untuk lebih ringkasnya, dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.1: Deskripsi data prestasi belajar siswa
Statistic Std. Error
Motivasi Belajar Mean 78.5125 0.76700
95% Confidence Lower Bound 76.9858
Interval for Mean Upper Bound 80.0392

5% Trimmed Mean 78.6250
Median 78.0000
Variance 47.063
Std. Deviation 6.86026
Minimum 60.00
Maximum 94.00
Range 34.00
Interquartile Range 9.00
Skewness -0.104 0.269
Kurtosis -0.015 0.532

Dari tabel di atas, dapat diketahui gambaran data penelitian mengenai prestasi belajar, di mana mean (rata-rata) skor perolehan siswa adalah 78,51. Varian sama dengan 47.063 dengan standar deviasi sama dengan 6.86026. Skor maksimal peroleh siswa adalah 94.00 dan skor minimum sama dengan 60.00. Untuk lebih jelasnya mengenai sebaran data prestasi belajar siswa diberikan pada tabel berikut.
Tabel 4.2: Frekuensi skor Prestasi Belajar Siswa kelas XI IPS SMAN 2 Singaraja
Interval Batas Bawah Frekuensi Nilai Tengah
60 - 64 59.5 2 62
65 - 69 64.5 5 67
70 - 74 69.5 12 72
75 - 79 74.5 27 77
80 - 84 79.5 16 82
85 - 89 84.5 13 87
90 - 94 89.5 5 92
JUMLAH 80

Dengan melihat tabel tersebut dapat diketahui skor prestasi belajar siswa terbanyak pada interval 75 –79 yaitu sebanyak 27 orang atau 33,75%, sebaliknya sebaran skor prestasi belajar siswa yang paling sedikit terdapat pada interval 60 – 64 sebanyak 2 orang (2,5%), interval 65 – 69 sebanyak 5 orang (6.25%) dan interval 90 – 94 sebanyak 5 orang (6,25%). Apabila frekuensi skor perolehan prestasi belajar tersebut dimasukkan ke dalam grapik (histogram), maka akan tampak grapik sebagaimana berikut.
__

Sedangkan untuk mengetahui tingkat kecenderungan skor prestasi belajar siswa kelas XI IPS SMAN 2 Singaraja, dapat dilakukan dengan mencari mean ideal dan standar deviasi ideal sebagai berikut: 1) skor maksimal ideal 100 dan minimal 0, diperoleh mean ideal (Mi) = ½ (Skor maksimal + skor minimal) sehingga diperoleh Mi = ½ (100 + 0) = 50.0, sedangkan SDi = 1/6 (skor maksimal – skor minimal = 1/6 (100 – 0) = 16,67. Nilai SDi dan Mi kemudian dikonversikan ke dalam tabel kecenderungan dengan 5 (lima) kategori sebagaimana berikut.
Mi + 1,5 SDi – Mi + 3,0 SDi
50 + 1,5 (16,67) – 50 + 3,0 (16,67)
75 – 100 ——————————— Sangat Tinggi
Mi + 0,5 SDi – Mi + 1,5 SDi
50 + 0,5 (16,67) – 50 + 1,5 (16,67)
58,33 – < 75 ——————————- Tinggi
Mi – 0,5 SDi – Mi + 0,5 SDi
50 – 0,5 (16,67) – 50 + 0,5 (16,67)
41,67 — < 58,33 ——————————- Sedang
Mi – 1,5 SDi – Mi – 0,5 SDi
50 – 1,5 (16,67) – 50 – 0,5 (16,67)
25 – < 41,67 ——————————– Rendah
Mi – 3,0 SDi – Mi – 1,5 SDi
50 – 3,0 (16,67) – 50 – 1,5 (16,67)
0 – α, maka sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
• Jika signifikansi yang diperoleh α atau 0,200 > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa sebaran data motivasi belajar siswa kelas XI IPS SMAN 2 Singraja Berdistribusi Normal.
Sedangkan sebaran data prestasi belajar siswa dengan menggunakan teknik yang sama dapat dilihat pada table berikut ini.
Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas Sebaran Data Prestasi Belajar Siswa dengan teknik Kolmogorof-Smirnov

Dari tabel di atas, nilai signifikansi yang diperoleh dengan teknik Kolmogorof-Smirnov adalah 0,89. Ternyata nilai signifikansi yang diperoleh > α atau 0,89 > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa sebaran data prestasi belajar siswa kelas XI IPS SMAN 2 Singraja Berdistribusi Normal.

4.2.2 Uji Linieritas
Untuk mengetahui hubungan variable motivasi belajar dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Geografi memiliki hubungan yang linier, dalam penelitian ini digunakan bantuan program SPSS10 for windows. Ringkasan hasil uji linieritas data diberikan pada table berikut.

Tabel 4.5:Ringkasan hasil uji linieritas data motivasi dan prestasi belajar dengan menggunakan table Anova

Berdasarkan tabel Anova di atas, dapat dilihat bahwa nilai F pada Deviation from Linierity adalah 1,409 dengan signifikansi 0,149 > 0,05. Berarti model regresi linear.

4.3 Uji Hipotesis
Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi product moment (r). Dengan rumus :

Dimana :
r = Korelasi X dengan Y
n = Jumlah responden
X = Motivasi belajar
Y = Prestasi belajar siswa
Dari hasil perhitungan dengan program Excel dan dan SPSS diperoleh hasil koefisien korelasi sebagaiman tercantum pada table berikut.

Tabel 4.6: Ringkasan hasil analisis korelasi antara variable motivasi (X) dan prestasi belajar (Y)

Dari table di atas diketahui bahwa koefisien korelasi motivasi dan prestasi belajar sebesar 0,796. Selanjutnya dilakukan pengujian keberartian koefisian korelasi, sebagaimana tertera pada table berikut:
Tabel 4.7: Koefisien Korelasi variable motivasi (X) dan prestasi Belajar (Y)

Hipotesis penelitian yang diuji:
Ho : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dan prestasi belajar pada siswa kelas XI IPS SMAN 2 Singaraja.
Ha : Terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dan prestasi belajar pada siswa kelas XI IPS SMAN 2 Singaraja
Dari table 4.7 diatas dapat dilihat bahwa harga koefisien korelasi sebesar 0,796 dan t hitung sebesar 11,623 > ttabel = dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Yang berarti bahwa Ho ditolak dan Ha diterima atau “Terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi (X) dan prestasi belajar (Y) siswa kelas XI IPS SMAN 2 Singaraja.
Selanjutnya, akan diukur besarnya kontribusi variable motivasi (X) terhadap variable (Y) dalam artian dianalisis kemampuan variable predictor (X) dalam memprediksi variable kriteriumnya. Dari hasil penelitian ini diperoleh koefsien determinasi (r2) sebagaimana diberikan pada table berikut.
Tabel 4.7: Koefisien Determinasi korelasi motivasi (Y) dengan prestasi belajar (Y)

R Square pada table di atas menunjukkan nilai koefisien determinasi korelasi motivasi dan prestasi belajar sebesar 0,634 atau sebesar 63,40%. Yang berarti bahwa prestasi belajar siswa dapat diprediksi sebesar 63,40% oleh variable motivasi belajar, sisanya sebesar 36,60% merupakan kontribusi factor lain yang tidak diteliti.

4.4 Pembahasan Hasil Penelitian
Motivasi belajar dari hasil penelitian ini telah dibuktikan mampu memprediksi prestasi belajar siswa sebesar 63,40%. Hal ini berarti bahwa motivasi belajar merupakan salah satu factor penentu keberhasilan belajar siswa yang paling menentukan dibandingkan dengan factor lainnya seperti ketersediaan sarana-prasarana, metode pembelajaran, dan lain sebagainya. Dikarenakan motivasi menjadi penggerak sekaligus pemberi arah kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar dapat tercapai secara maksimal. (Sardiman, 1988: 75).
Dari hasil observasi dan kuesioner yang diberikan kepada responden, ternyata motivasi belajar yang berasal dari dalam diri siswa sendiri seperti: ketekunan dalam belajar, ulet dalam menghadapi kesulitan belajar, kemandirian dalam belajar, minat dan perhatian terhadap materi pelajaran lebih berpengaruh dibandingkan dengan motivasi yang berasal dari luar diri siswa seperti lingkungan, perhatian orang tua, sarana-prasarana, kurikulum, hadiah dan hukuman, dan sebagainya.
Siswa yang memiliki motivasi yang kuat dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas terlihat penuh semangat, antusias, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, aktif dalam pembelajaran, rajin dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru, sehingga mereka memiliki daya tahan yang cukup lama dalam menyelesaikan studi, dibandingkan dengan siswa yang kurang memiliki motivasi. Siswa yang motivasinya tergolong rendah ini biasanya menunjukkan sikap bermalasan, mengantuk, dan perhatiannya terbagi kemana-mana di saat proses belajar sedang berlangsung.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar pendidikan Geografi siswa kelas XI IPS SMAN 2 Singaraja.
2. Variabel motivasi belajar berkontribusi atau dapat memprediksi prestasi belajar sebesar 63,40%. Sisanya adalah merupakan factor lain yang tidak diteliti.

5.2 Saran
Dengan memperhatikan pada kesimpulan tersebut di atas maka penulis mengajukan saran sebagai berikut :
Oleh karena motivasi belajar berperan signifikan dalam meningkatkan hasil belajar siswa, maka:
1. Pihak sekolah hendaknya menanamkan motivasi belajar kepada siswa.
2. Dan khusus untuk guru, di samping melaksanakan tugas-tugas mengajarnya hendaknya juga memberikan motivasi belajar terhadap siswa yang diajarnya.
3. Demikian juga halnya dengan para siswa harus memiliki motivasi tinggi untuk selalu belajar agar menjadi generasi muda yang tangguh dan mampu bersaing dalam menjalani hidupnya kelak di kemudian hari.

Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsimi. 2000. Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta

——-. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta

Depdikbud. 1997. Bahan Penataran Pengujian Pendidikan. Jakarta : Puslitbang Sisjian Balitbang Depdikbud.

Depdiknas. 2000. Penyusunan Butir Soal dan Instrumen Penilaian. Jakarta

Dimyati & Mudjiono. 1994. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Proyek Pembinaan dan Peningkatan Mutu Kependidikan, Dirjen Dikti Depdikbud.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta

Djalal, M.F. 1986. Penilaian Dalam Pengajaran Bahasa Asing. Malang: P3T IKIP Malang
Hamalik, Oemar. 2000. Psikologi Belajar dan Manager. Bandung : Sinar Baru Algessindo
——, 1994. Metode Belajar dan kesulitan-Kesulitan Belajar. Surabaya: Usaha Nasional.
http://duniapsikologi.dagdigdug.com/2008/11/27/pengertian-pendidikan/ (online)
di akses tgl 1 Januari 2009
http://sobatbaru.blogspot.com/2008/08/pengertian-pendidikan-agama-islam.html (online) diakses tanggal 1 Januari 2009
http://pakdesofa.blog2.plasa.com/archives/50 (online) di akses tanggal 29 Desember 2009
http://www.infoskripsi.com/Proposal/Proposal-Skripsi-Pengaruh-Cara-Belajar.html (online) di akses tgl 21 desember 2008

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/ 2008/02/06/teori-teori-motivasi/ (online) di akses tanggal 22 Oktober 2009

Makmun, Abin Syamsudin. 1996. Psikologi Pendidikan. Bandung : Rosdakarya.

Moeliono, Anton, dkk. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta : Balai Pustaka.

Nasution, Noehi. 1974. Psikologi Pedidikan. Jakarta : Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Dan Universitas Terbuka.

Natawijaya, 1987. Psikologi Pendidikan. Jakarta : CV. Mutiara

Natawidjaja, Rahman. 1988. Peranan Guru dalam Bimbingan. Bandung : Abardin.

——-. 1992. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Depdikbud.

Nasution, Farid. 2001. Hubungan Metode Mengajar Dosen, Keterampilan Belajar, Sarana Belajar dan Lingkungan Belajar dengan Prestasi Belajar Mahasiswa. Jurnal Ilmu Pendidikan. Jilid 8. Nomor 1.

Nurman, Muhammad. 2006.”Pengaruh Penggunaan Metode Pembelajaran Inkuiri dan Ekspositori Terhadap Sikap Politik Berdemokrasi dan Prestasi belajar Siswa Pada Pembelajaran PPKn di SMA (Studi Eksperimen tentang Pengaruh Metode Pembelajaran Terhadap Sikap Politik Berdemokrasi dan Prestasi Belajar PPKn Siswa di SMA NW Pancor – Lombok Timur) Tesis (tidak diterbitkan) Program Pascasarjana IKIP Negeri Singaraja.

Nurkancana, Wayan dan Sunartana. 1986. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional

Prayitno, Elida. 1989. Motivasi dalam Belajar. Jakarta : PPLPTK Depdikbud.

Purwanto, M. Ngalim. 2000. Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.
——. 2002. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Ruduwan.2005. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung : Alfabeta.

Sardiman, A.M. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta. PT. Raya Grafindo Persada.

——-. 1988. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : Rajawali Pers.

Saifudin Azwar. 1996. Pengantar Psikologi Intelegensi. Jogyakarta : Pustaka Pelajar.

Subagia, I Wayan & Sudiana, I Ketut. 2002. Materi Kuliah Strategi Belajar Mengajar (KIMP 401). Singaraja : IKIP

Suryabrata, S. 1987. Psikologi Pendidikan. Jakarta : CV. Rajawali

Sutama, dkk. 2002. Pedoman Penulisan Skripsi/Tugas Akhir. IKIP Negeri Singaraja.
Surya, Muhammad. 1996. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung : Jurusan PPB FIB IKIP Bandung.

——-. 2001. Guru Sebagai Perekat Bangsa. Majalah Gerbang. Edisi ke 3.

Soeitoe, Samuel. 1987. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI.

Sumidjo,Wahjo.1999. Kepemimpinan Kepala Sekolah. Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Surachmad, Winarno. 1994. Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung : Tarsito.

Supartha, I Wayan. 2004.” Validitas Prediktif Nilai Tes Kemampuan Awal Akademik Terhadap Prestasi Belajar Siswa di SMA Unggulan Se-Kota Denpasar”. Tesis (tidak diterbitkan) Program Pascasarjana IKIP Negeri Singaraja.

Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada

——-. 1996. Psikologi Pendidikan. Bandung : Rosdakarya.

Sri Swastiningsih, Ketut. 2004. “Pengaruh Umpan Balik Terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa Dalam Pembelajaran Statistik (Suatu Eksperimen di Universitas Warmadewa Denpasar)” Tesis (Tidak diterbitkan) Program Pascasarjana IKIP Negeri Singaraja.

Tirtonegoro, Sutratina. 1984. Anak Supernormal dan Program Pendidikannya. Jakarta : Bina Aksara.

Winkel, W.S. 1987. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta : Gramedia.

Yusuf, Syamsu. 1993. Dasar-dasar Pembinaan Kemampuan Proses Belajar Mengajar. Bandung : CV. Andria.

Zamroni, 2000. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta : Bigraf Publising.





English Conversation Course at EF

27 06 2009

The art of English conversation

If you find that talking is the most difficult part in learning English or if you do not feel confidence talking in English, then our English conversation course is just the perfect answer for you. We have thought about this English conversation course to its smallest details in order to provide you the most effective course to help you improve your conversation skills. With EF English First, you will learn to master the art of English conversation in the right way.

Easy and convenient iLAB online classroom

Our iLAB online tutorial offers highly interactive study contents that are close to real life for adults. Combining iLAB and face-to-face courses allows our English conversation course to better meet the requirements of our students. As for kids, iLAB’s interactive language games give students perfect chances to put their English listening and pronunciation skills into practice. Every EF school is equipped with the advanced iLAB. Students will be able to login to student page to widen vocabulary and do English listening and English conversation exercises. They can also practice their English pronunciation at the pronunciation lab.

Face-to-face teaching by native English teachers

Our native English teachers help students improve their English pronunciation and English conversation skills by giving classes with the topics that specifically allow students to activate their English and focus on English listening and English conversation. Beside improving knowledge on English and practicing English listening, students could also gain more opportunities to communicate with native English teachers in small class. In addition, our native English teachers will give our students trainings on English conversation according to students’ English level.

//






DI CARI INVESTOR

16 06 2009

Di cari INVESTOR untuk Menggarap Batu Alam (Lempengan Batu utk Villa dan HOtel), Luas Areal 50 are, Lokasi Buleleng…yang tertarik hub. 081915680497. SERIUS





Arief’s Photo Slide Show

8 08 2008





TELUR AJAIB

5 07 2008

MAHA BESAR ALLAH DENGAN SEGALA CIPTAANNYA

Pada hari Jumat tanggal 12 Juni 2008 sekitar jam 11.15 siang terjadi keajaiban yang luar biasa di salah satu daerah di Nusa Tenggara Barat (NTB). Yaitu dengan menetasnya ayam kampung yang induknya semua berwarna putih. Yang menarik ayam ini tidak menetaskan telur seperti telur-telur pada umumnya tapi menetaskan telur yang amat luar biasa yang mana lapisan luarnya berupa kristal yang trasnparan yang didalamnya terlihat jelas potongan emas yang mirip seperti piramida. Menariknya lagi didalam emas tersebut terdapat permata delima. Luar biasanya lagi setiap kita melihat telur ini dari sisi yang berbeda-beda akan memperlihatkan kenampakan yang berbeda-beda pula seperti Ka’bah (Rumah Allah), wajah manusia, kepala ular dan lain-lain. Telur ini menetas pada urutan ke 11 atau terakhir dari jumlah telur yang semuanya berjumlah 11. Untuk lebih jelasnya simak foto-fotonya berikut ini :

Foto bawah : Terlihat lapisan luarnya menampakkan cristal yang transparan yang memperlihatkan emas didalamnya.

Foto atas : Pada foto tersebut memperlihatkan permata delima yang menempel pada emas

Harganya ditaksir sekitar Rp. 5 Milyar

Anda tertarik? Silahkan menghubungi No.Hp berikut ini, 081915680497 atau email : arief_mbozo@yahoo.co.id





ADAKAH AGAMA DIPERLUKAN LAGI?

14 06 2008

Agama sebagai “Way of Life” manusia, semua orang tentu saja sepakat. Agama berhasil mendogma manusia untuk tunduk di bawah kata-katanya. Tentu saja ada sebagian orang yang tidak percaya dengan dalih bahwa agama tidak terlalu penting. Ide Hintze, contoh kecilnya (sebetulnya Christian Hintze). Ia tidak suka agama, lalu memutuskan memakai nama Ide. Di Austria, orang boleh tidak beragama, karena di sana beragama tidak memberi banyak keuntungan. Di Indonesia, beragama tentu saja membawa keuntungan, tetapi tidak beragama membawa kerugian sosial.

Tahun lalu, ia datang ke Jakarta untuk ikut Festival Puisi Internasional di Teater Utan Kayu. Dalam taksi menuju hotel, sang supir memperhatikan topi khasnya-seperti topi haji tapi berwarna ungu. “Anda pakai topi. Anda Islam?” Ia menjawab bukan. “Lalu apa agama Anda?” Ia agak heran, tapi menjawab. “Agama saya adalah puisi.”

Sejak jam pertamanya ia menyadari bahwa agama begitu penting dalam identitas orang Indonesia. Di taksi itulah ia menemukan rumusan indah: “Agama saya ada puisi.” Maka tahulah ia, bahwa agama merupakan salah satu dari lima keingintahuan utama orang Indonesia. (Empat yang lain: umur, status perkawinan, suku, dan pekerjaan – kalau perlu penghasilannya juga).

Sekarang, agama di Indonesia menjelma lain. Ia menjelma bukan lagi sebagai, seperti kata orang menyejukkan dan merukunkan hidup antar manusia, tetapi agama menjelma toksin yang mematikan. Agama mengkalsifikasikan manusia ke dalam kotak-kotak yang berbeda, yang saling tidak berterima. Ia menghembuskan angin antipati antara yang satu dengan yang lain. Dalam konteks ini, agama memiliki kekuatan menyatukan sekaligus memusnahkan.

Tidak bisa kita lupakan begitu saja rentetan tragedi dan peristiwa sadis yang marak terjadi akhir-akhir ini maupun di tahun lalu. Juga kasus-kasus vandalisme yang kerap terjadi, seperti peristiwa pemboman tempat ibadah ketika orang melakukan ritual keagamaan, pembakaran mesjid, gereja, dan tindakan brutal lainnya yang sejenis. Hal ini dilatarbelakangi oleh sentimen serta rasa memiliki dan tak ikut memiliki. Setipis rambut disuwir tujuh. Perbedaan agama memberi jalan ke arah itu, ke arah pergolakan.

Kemudian kita saksikan ketika ada pembuatan kartu identitas, atau Kartu Tanda Penduduk (KTP). Selalu saja rentan keributan dan kerumitan. Kadang dipermudah, dan tak jarang juga yang sengaja merumitkan masalah yang sebenarnya tidak sulit (Nepotisme paling sering masuk birokrasi). Biasanya hal ini kerap tejadi pada daerah-daerah rawan konflik, juga daerah-daerah lain yang disinyalir memiliki kadar sentimen tinggi, yang beranggapan bahwa daerah ini tidak layak dihuni oleh penduduk daerah lain atau agama lain. Jadi, dengan jalan merumitkan proses pembuatan KTP bisa meminimalisasi arus perpindahan penduduk yang tidak dikehendaki. Sinyal tersebut menandakan, betapa agama menjelma momok menakutkan. Memang, gejala ini tidak berlaku kolektif untuk semua daerah. Hanya saja porsinya tidak sama pada tiap-tiap daerah. Tetapi dampak yang tidak boleh di sepelekan adalah adalah daerah-daerah yang notabene langganan konflik seperti Ambon dan Poso. Perbedaan agama justru menciptakan malapetaka. Dengan mengetahui bahwa seseorang itu tidak beragama, besar kemungkinan kehadirannya tidak dinginkan.

Agama sebagai suatu kekuatan yang dapat menyatukan manusia-manusia yang berbeda adalah utopia. Setidak-tidaknya dalam konteks ini (dalam konteks dimana Islam menganggap Kristen adalah saudara, dan sebaliknya). Secara umum, manusia lebih senang bergaul dengan orang se-akidah (Seagama) daripada dengan orang yang beragama lain. Cukup banyak peristiwa memprihatinkan yang bisa kita jadikan rujukan, kemudian kita timbang-timbang, adakah agama diperlukan lagi dalam proses pembuatan KTP yang berkaitan dengan situasi runyam seperti sekarang. Dengan menghilangkan unsur agama, paling tidak kemungkinan rasa antipati bisa ditekan sekecil mungkin, yang pada akhirnya bisa melancarkan proses pembuatan KTP.

Pada sisi lain, saya membayangkan, betapa bingungnya orang Indonesia seandainya tidak tahu agama seseorang. Sebab itu tadi, tidak bisa tidak kita untuk tidak begitu. Di mana-mana orang Indonesia terkenal curious-nya. Selalu cerewet dan ingin tahu agama orang lain (waktu kecil, ada teman sepermainan saya yang tergila-gila pada sosok Ari Wibowo. Belakangan ia tahu, bahwa si tampan itu beda agama. Betapa kecewanya dia. Akhirnya memutuskan sikap yang bodoh. Dia memilih tidak mau tertarik lagi). Juga ada seorang bule yang jengkel, dan memilih diam karena ditanya soal agama. Dia bilang “Itu tidak penting. Bukan urusanmu.”

By. Arief_marewo





Hello world!

7 06 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!